KETIKA EGO MENGALAHKAN CINTA

Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.

 “Refleksi tentang bagaimana ego menghancurkan cinta. Saat gengsi lebih tinggi dari keberanian untuk bertahan, kita bisa kehilangan yang paling kita sayang.”

Ada cinta yang hancur bukan karena takdir, bukan juga karena orang ketiga atau karena waktu yang memisahkan.  Tapi karena satu hal yang sering tak kita sadari, yaitu ego.

Ego gak selalu berteriak atau selalu marah-marah, kadang ia muncul dalam bentuk yang lebih tenang. Misalnya seperti memilih diam padahal mau mendekat,

seperti gak mau memulai padahal sangat rindu, atau seperti berkata “gak apa-apa”, padahal ada luka yang belum reda.

📽️ Tonton video reflektif kami di YouTube:

“Menang Tapi Kehilangan – Refleksi Tentang Ego”

Sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mengalah.

Pernah gak sih, merasa begini? Saling cinta, tapi kok malah saling menyakiti?

Kita tahu kalau dia masih peduli, kita juga belum mau pergi. Tapi gak ada yang mau memulai duluan. Gak ada yang mau mengalah lebih dulu.
Dan akhirnya? Keduanya saling menjauh, perlahan tapi pasti.

Cinta itu butuh keberanian.
Keberanian untuk membuka hati dan minta maaf walau merasa bukan kita yang salah. Dan keberanian untuk bilang, “aku masih ingin kita baik-baik saja.”

Tapi ketika ego bicara, semua keberanian itu menjadi hilang.
Yang ada hanya tinggal gengsi, diam, dan harapan yang digantung sendiri.

Ego itu suara dalam diri yang terlalu ingin diakui.

Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan “harga diri”, sampai lupa mempertahankan hubungan yang kita sendiri perjuangkan dari awal.

Ego bilang:

Kalau kamu ngalah, berarti kamu kalah.”

Kalau kamu minta maaf, berarti kamu yang salah.”

“Kalau kamu duluan yang nyari, berarti kamu terlalu lemah.”

Padahal kenyataannya, kadang justru yang minta maaf duluan itu yang paling berani.  Yang memulai duluan itu yang paling peduli. Dan yang mengalah bukan berarti kalah melainkan lebih cinta.

Aku masih sayang, tapi aku kehilangan

Lucunya, setelah semua saling diam itu selesai, yang tertinggal bukan rasa lega, tapi kehilangan.

Kita kehilangan seseorang yang seharusnya masih bisa bertahan.
Kita kehilangan momen-momen kecil yang pernah membuat hati kita hangat.
Kita kehilangan peluang untuk tumbuh bersama hanya karena gak mau menurunkan suara, gak mau memeluk lebih dulu.  Padahal cinta itu masih ada. Tapi hubungannya sudah gak bisa kembali seperti semula.

Bukan karena cinta yang hilang, tapi karena waktu sudah terlalu banyak terlewat tanpa adanya keberanian untuk memperbaiki.

Jika waktu bisa diulang.

Kalau saja waktu bisa diulang, aku mau kembali ke titik di mana kita hanya saling genggam tangan tanpa mempertanyakan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Aku mau memeluk lebih erat di saat kita sedang dingin-dinginnya.
Aku mau bilang,

“Kita boleh berbeda, tapi kita gak harus saling meninggalkan.”
“Aku mau kita memperbaiki, bukan saling membuktikan siapa yang lebih baik.”

Tapi waktu gak bisa diulang.
Dan cinta, jika dibiarkan menunggu terlalu lama, akhirnya lelah juga.

Ego itu harusnya menjaga diri, bukan mengusir orang yang kita cinta

Ego seharusnya juga ada untuk menjaga batas.
Tapi jangan sampai ego membuatmu mengusir seseorang yang sebenarnya hanya ingin dipeluk lebih kuat.
Jangan sampai kamu merasa kuat, padahal sebenarnya kamu sedang perlahan kehilangan.

Menahan diri memang perlu, tapi menahan rasa sayang itu menyakitkan.

Lebih baik jujur daripada menutup diri dan akhirnya menyesal kehilangan seseorang yang sebenarnya masih mau bertahan.

Belajar dari rasa kehilangan Itu

Mungkin kamu pernah mengalami ini.
Mungkin kamu adalah orang yang bertahan, atau justru yang pergi.

Tapi dari semua rasa sakit itu, kita belajar bahwa cinta itu bukan soal menunggu siapa yang berubah duluan.
Cinta itu soal siapa yang berani jujur, siapa yang berani mencintai dengan rendah hati.

Kadang kita terlalu sibuk menjaga harga diri, sampai kita kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar tulus.

Dan saat semuanya sudah terlambat, barulah kita sadar, ternyata yang harus kita lepaskan duluan bukan dia tapi ego kita sendiri.

Jadi…

Kalau kamu masih cinta, tapi sudah kehilangan, mungkin kamu sudah tahu betapa mahalnya harga diam. Betapa menyakitkan gengsi yang gak perlu.

Maka kalau suatu hari nanti kamu diberi kesempatan mencintai lagi, ingatlah! jangan tunda untuk jujur, jangan tunda untuk memeluk lebih dulu.
Dan jangan pernah merasa kalah hanya karena kamu mencintai lebih banyak.

Karena cinta gak mencari siapa yang paling benar,
tapi siapa yang paling berani untuk tetap bertahan meski sedang disakiti.

Mungkin kamu suka dengan artikel ini :

Tanda hubungan tidak sehat secara emosional