SURAT UNTUK SESEORANG YANG SEDANG BELAJAR SEMBUH

Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.

Untukmu, Yang Sedang Belajar Sembuh

Sayang,

Aku tahu… di dalam hatimu, ada ruang yang pernah retak. Retakan itu bukan muncul karena aku, tapi karena masa lalu yang pernah melukai. Dan meski kita berjalan bersama hari ini, aku bisa merasakan ada bagian dari dirimu yang masih menyimpan luka itu erat-erat. Bukan karena kamu ingin, tapi karena belum tahu cara melepaskannya.

Sepasang kekasih yang bergandengan tangan dan wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak pria dan mereka ada di tengah jalan di suatu kota

Aku mengerti, sayang. Luka seperti itu gak hilang hanya karena kita mau. Ada hari-hari ketika kamu bisa tersenyum lebar, bercanda seperti dunia ini baik-baik saja, tapi ada juga hari-hari ketika matamu menyimpan mendung, dan aku tahu itu bukan karena aku, tapi karena sesuatu yang pernah terjadi padamu.

Kadang, di momen-momen itu, kamu memilih diam. Menarik diri. Merenung sendirian. Mungkin kamu berpikir itu lebih aman, agar gak ada yang tersakiti oleh kata atau sikap yang mungkin keluar tanpa sengaja. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa keheninganmu juga berbicara. Aku mendengarnya. Aku merasakannya. Dan meskipun aku bisa memahami alasanmu, aku juga ingin menjadi tempat di mana kamu merasa aman untuk tetap ada, bahkan ketika hatimu berantakan.

Tonton video ini di YouTube

Aku tahu kamu mencintaiku. Aku gak pernah meragukan itu. Hanya saja, mencintai dalam keadaan terluka memang gak mudah. Kadang kita jadi takut. Takut mengulang kesalahan. Takut kehilangan lagi. Takut membuat orang yang kita sayangi terluka karena luka kita sendiri. Aku tahu rasa takut itu ada di dalam dirimu, dan aku gak akan memaksa rasa itu pergi sebelum kamu siap.

Tapi dengar aku, sayang… kita gak harus melawan semua ini sendirian. Aku gak di sini untuk memperbaiki masa lalumu, karena itu bukan tugasku. Aku di sini untuk menemanimu melewati hari demi hari, sambil mengingatkan bahwa gak semua orang yang datang akan pergi. Bahwa ada orang yang mau tinggal, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Aku gak akan menyangkal, kadang sikapmu melukaiku. Bukan karena niat, tapi karena cara lukamu bekerja. Dan aku pun belajar untuk mengenali kapan aku perlu merengkuhmu, dan kapan aku perlu memberi ruang. Cinta yang sehat memang bukan tentang selalu menempel tanpa jeda, tapi tentang tahu kapan kita saling mendekat, dan kapan memberi napas.

Aku ingin kita bertumbuh, sayang. Bukan hanya sebagai pasangan, tapi sebagai dua manusia yang sama-sama sedang belajar. Aku percaya, proses ini akan membuat kita lebih kuat meski jalannya lambat, meski kadang melelahkan. Aku percaya kita akan sampai di titik di mana luka itu bukan lagi penjara, tapi bagian dari cerita yang membentuk kita.

Jangan takut kalau perjalanan ini panjang. Aku gak sedang menghitung hari untuk ‘menunggu kesembuhanmu’. Aku sedang memilih untuk berjalan bersamamu. Aku gak mau kamu merasa tertekan untuk menjadi ‘sempurna’ demi hubungan ini. Aku hanya ingin kamu mau jujur, bukan hanya padaku, tapi pada dirimu sendiri, tentang apa yang kamu rasakan, apa yang kamu takutkan, dan apa yang kamu butuhkan.

Aku percaya cinta bukan sekadar rasa, tapi juga pilihan. Dan aku memilih kamu, lengkap dengan masa lalumu, rasa takutmu, dan impianmu. Bukan berarti aku gak punya batas, tapi aku tahu cinta ini cukup besar untuk memberi ruang bagi kita berdua.

Untuk kamu yang sedang belajar mencintai di tengah proses penyembuhan, ijinkan aku mengingatkan satu hal bahwa kamu berhak dicintai, bahkan sebelum kamu ‘selesai’ sembuh. Dan aku akan mengingatkan itu setiap kali kamu lupa.

Aku berharap suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang, kamu akan melihat betapa jauh kamu sudah melangkah. Dan saat itu, mungkin kamu akan tersenyum, bukan karena luka itu hilang, tapi karena kamu berhasil hidup berdampingan dengannya tanpa lagi merasa hancur.

Kita akan baik-baik saja, sayang. Bukan karena hidup ini mudah, tapi karena kita memilih untuk saling menggenggam tangan meski jalannya terjal. Aku akan tetap di sini, bukan untuk menyelamatkanmu, tapi untuk berjalan bersamamu, satu langkah demi satu langkah.

Dengan hatiku yang penuh,
Aku

Artikel lainnya :Belajar berdamai dengan luka lama, Ketika ego mengalahkan cinta,Ketika rindu terjebak dalam diam

👉 Kerja lebih nyaman, ide barang untuk di meja kerja 

 

CINTA YANG CUMA TENTANG DIA

Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.

 Awalnya aku kira cinta itu saling. Saling mendengarkan, saling memahami, saling hadir. Tapi ternyata, kadang cinta tidak berjalan seperti yang kita bayangkan. Kadang kita terlalu fokus mencintai seseorang hingga lupa bertanya,

“Apakah aku dicintai dengan cara yang sama?”

Seorang pria yang berdiri disuatu tempat melihat alam

Aku Selalu Ada, Tapi Dia?

Hubungan ini tidak dimulai dengan luka. Justru, awalnya terasa hangat. Dia perhatian, dia mendengarkan, dia membuatku merasa penting.
Aku pikir, “Mungkin akhirnya aku menemukan seseorang yang melihatku bukan hanya sebagai pelarian.”

Tapi perlahan, segalanya mulai berubah.

Aku belajar, bahwa ada perbedaan besar antara ada secara fisik dan benar-benar hadir secara hati.
Dia mungkin ada di dekatku, tapi pikirannya entah ke mana. Dia mungkin duduk di sampingku, tapi hatinya tidak pernah singgah. Sementara aku, selalu menaruh seluruh perasaan, berharap dia melihat bahwa aku berjuang untuk tetap di sini.

Aku tetap ada saat dia sedih. Aku tetap bertahan saat dia marah.
Aku tetap mengerti bahkan saat dia menjauh. Tapi saat aku lelah, dia tidak pernah benar-benar hadir. Saat aku butuh ditenangkan, dia malah menghindar.

Tonton video ini di YouTube Shorts


Semua Tentang Dia

Entah sejak kapan hubungan ini berubah jadi monolog. Aku yang berbicara,
dia yang diam. Aku yang menunggu, dia yang sibuk dengan dunianya sendiri. Dan aku mulai menyadari sesuatu, semua ini…cuma tentang dia.

Tentang bagaimana aku harus mengerti dia.
Tentang bagaimana aku harus ada saat dia ingin.
Tentang bagaimana aku harus diam saat dia pergi.

Sementara aku?

Aku menahan tangis sendirian. Aku pura-pura kuat agar dia tidak merasa terganggu.
Aku menelan kecewa karena takut terlihat menyusahkan.

Aku Takut Kehilangan, Maka Aku Diam

Aku diam bukan karena tidak ingin bicara, tapi karena aku takut, kata-kataku akan membuatnya menjauh. Aku tahan luka karena aku takut dia merasa tidak dicintai. Padahal sebenarnya akulah yang tidak dicintai dengan benar.

Aku mulai menurunkan ekspektasi. Mulai merasa cukup dengan sisa waktu yang dia berikan. Mulai merasa cukup dengan setengah hati yang ia tunjukkan. Dan lama-lama aku mulai hilang dari diriku sendiri.

Sampai akhirnya aku sadar, aku terlalu sering menenangkan diriku dengan kalimat,
“Mungkin nanti dia akan berubah. Mungkin besok dia akan lebih mengerti. Mungkin suatu hari dia akan melihat aku yang sesungguhnya.”
Tapi “mungkin” itu hanya janji kosong yang aku buat untuk diriku sendiri, agar aku punya alasan bertahan.

Bukan Tak Ada Cinta, Tapi Tak Seimbang

Aku percaya, dia menyayangiku. Tapi cinta itu tidak cukup jika hanya satu yang terus memberi. Aku capek jadi penghibur dalam cerita yang katanya cinta tapi isinya cuma tentang dia.

Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Tapi siapa yang rela berjalan bersama, tanpa ada yang tertinggal jauh di belakang.

Dan saat hanya satu yang memegang tali, sementara yang lain menyeret, itu bukan cinta. Itu luka yang dibiarkan tumbuh pelan-pelan.

Cinta yang hanya berjalan satu arah sering kali membuat kita kehilangan diri sendiri. Kita rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kebahagiaan, demi seseorang yang tak pernah benar-benar menoleh. Kita terus memberi, padahal kita pun punya hati yang ingin diisi.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri:
Apakah aku masih mencintai dia, atau aku hanya takut sendirian?
Apakah aku bertahan karena cinta, atau hanya karena kenangan manis di awal yang terus aku ulang-ulang dalam pikiranku?

Cinta yang tidak seimbang itu melelahkan. Rasanya seperti berlari tanpa garis akhir, atau seperti berbicara pada ruang kosong. Lama-lama, bukan lagi tentang dia yang tidak hadir, tapi tentang aku yang kehilangan suaraku sendiri.

Momen Saat Aku Berhenti

Aku tidak meledak. Aku tidak marah-marah.
Aku cuma berhenti. Berhenti menunggu, berhenti memohon, berhenti berharap dia akan sadar. Bukan karena aku sudah tidak sayang. Tapi karena aku sadar, aku tidak bisa terus mencintai sambil kehilangan diriku sendiri. Aku juga berhak dicintai.

Aku akhirnya mengerti bahwa mencintai seseorang bukan berarti harus selalu bertahan. Kadang, melepaskan justru adalah bentuk cinta tertinggi dimana itu adalah cinta pada diri sendiri.

Melepaskan bukan berarti aku tidak pernah mencintai. Justru karena aku pernah mencintai dengan begitu tulus, aku harus berani berhenti sebelum diriku hancur. Karena jika cinta hanya membuat satu pihak terluka, apakah itu masih bisa disebut cinta?

Aku mulai menata ulang caraku memandang hubungan. Cinta bukan soal siapa yang paling lama bertahan, tapi siapa yang benar-benar hadir dan menjaga. Bukan tentang seberapa keras aku berusaha, tapi seberapa seimbang keduanya saling memberi.

Aku belajar bahwa cinta yang sehat itu bukan hanya soal ada seseorang di hidup kita, tapi tentang bagaimana kita tetap bisa jadi diri sendiri tanpa harus terus berkorban diam-diam.

Aku tidak salah karena ingin diperjuangkan juga. Aku tidak egois karena ingin dimengerti juga. Dan aku tidak lemah karena akhirnya memilih diam dan mundur.

Refleksi untuk Siapa Pun yang Membaca

Aku yakin, banyak orang pernah berada di posisi ini yaitu menjadi yang selalu ada, sementara pasangan kita hanya datang dan pergi sesuka hati. Rasanya menyakitkan, karena kita merasa cinta sudah cukup. Padahal, cinta saja tidak pernah cukup.

Hubungan butuh dua hati yang sama-sama memilih untuk hadir, sama-sama berjuang, dan sama-sama menjaga. Tanpa itu, cinta hanya jadi monolog panjang yang penuh luka.

Jadi, jika kamu yang membaca ini pernah merasa seperti aku, percayalah, kamu berhak dicintai dengan cara yang sama. Kamu berhak untuk tidak hanya menunggu, tapi juga ditemui. Kamu berhak merasa damai, bukan terus-menerus cemas.

Dan jika pada akhirnya kamu harus melepaskan, itu bukan berarti kamu kalah. Itu hanya berarti kamu cukup berani memilih dirimu sendiri.

Kalau Cinta Ini Cuma Tentang Dia…

Maka cukup. Aku sudah cukup kuat untuk bilang,Aku gak mau lagi jadi pemeran pendukung dalam kisah yang hanya berputar pada satu orang.”

Kalau cinta ini tidak membuatku merasa dicintai, kalau cinta ini hanya membuatku bertanya, kalau cinta ini membuatku menghilang dari diriku sendiri, maka aku akan pamit. Bukan sebagai orang yang kalah tapi sebagai seseorang yang akhirnya tahu caranya mencintai diri sendiri lebih dulu.

Untuk kamu yang pernah mencintai dalam diam, dan mulai sadar bahwa diam bukan lagi tempatmu berteduh, tapi luka yang kamu bungkus agar terlihat tegar.
Kamu berhak untuk kembali ke diri sendiri.

Mungkin kamu juga suka artikel ini : Refleksi cinta yang tidak seimbang

REFLEKSI CINTA YANG TIDAK SEIMBANG

Cinta yang Terasa Berat di Satu Sisi Awalnya aku pikir ini cuma fase. Aku pikir semua hubungan pasti ada pasang-surutnya. Kadang yang satu lebih banyak memberi, kadang yang lain lebih banyak menerima, dan aku percaya, suatu saat akan seimbang. Tapi semakin lama, aku mulai sadar bahwa ini bukan soal fase. Ini adalah soal pola. Pola … Baca Selengkapnya