Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.
Suatu sore, sambil duduk di kafe, saya melihat seorang wanita setengah baya menikmati secangkir teh. Dia menatap keluar jendela, memperhatikan gerimis yang jatuh pelan, sambil sesekali tersenyum. Di meja sebelahnya, seorang pria muda sibuk mengetik di laptop, memegang ponsel di tangan kiri, dan sesekali meneguk kopi dengan cepat.

Pemandangan itu membuat saya berpikir: “Kapan terakhir kali kita benar-benar menikmati momen tanpa merasa dikejar waktu?”
Kita hidup di dunia yang serba cepat. Target harus tercapai, pesan harus dibalas segera, berita terus bergulir, dan waktu terasa seperti berlari. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu prinsip hidup yang mulai banyak dicari yaitu “slow living” yang artinya hidup dengan ritme yang lebih pelan dan penuh kesadaran.
Apa Itu Slow Living?
Slow living adalah filosofi hidup yang mengajak kita untuk memperlambat langkah, hidup dengan penuh kesadaran, dan menikmati setiap proses. Di Wikipedia memberi penjelasan tentang asal-usul slow living, seperti gerakan Slow Food, dan prinsip-prinsip seperti SLOW.
Bukan berarti kita harus hidup malas atau gak produktif, melainkan memberi ruang untuk:
• Menikmati momen tanpa terburu-buru.
• Memberi perhatian penuh pada apa yang kita lakukan.
• Menghargai kualitas, bukan hanya kecepatan.
Berbeda dengan simple living yang fokus pada mengurangi hal yang gak perlu, slow living fokus pada ritme dan cara kita menjalani hidup. Ini mengajarkan kita bahwa hidup gak selalu harus cepat untuk bisa bermakna.
Mengapa Slow Living Relevan di Zaman Sekarang?
Dulu, ritme hidup orang cenderung lebih pelan secara alami. Gak ada internet, transportasi terbatas, dan komunikasi pun membutuhkan waktu. Sekarang, teknologi memberi kita kemampuan untuk melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat, tapi justru itu yang sering membuat kita merasa lelah.
Di era serba cepat ini:
• Kita terbiasa multitasking, tapi kehilangan fokus.
• Kita sering mengejar hasil, tapi lupa menikmati perjalanan.
• Waktu luang pun terasa sibuk karena diisi dengan distraksi.
Slow living hadir sebagai pengingat bahwa gak semua hal harus diselesaikan secepat mungkin. Ada keindahan dalam memberi waktu pada sesuatu untuk berkembang secara alami.
Kenapa Ada yang Setuju dan Ada yang Tidak?
Mereka yang Setuju
Bagi yang setuju, slow living menawarkan:
• Ketenangan pikiran – gak merasa terus dikejar-kejar oleh waktu.
Contohnya : Memulai pagi dengan minum kopi sambil membaca buku, tanpa tergesa-gesa membuka email.
• Kehidupan yang lebih mindful – menikmati apa yang sedang dilakukan tanpa sibuk memikirkan langkah berikutnya.
Contohnya : Memasak sambil mendengarkan musik favorit, bukan sambil menjawab chat kerja.
• Hubungan yang lebih berkualitas – hadir sepenuhnya ketika bersama orang lain.
Contohnya : Saat makan malam, ponsel disimpan, obrolan mengalir tanpa distraksi.
• Keseimbangan hidup – gak membiarkan pekerjaan atau tuntutan sosial menghabiskan seluruh waktu.
Contohnya : Mengakhiri hari kerja tepat waktu untuk berjalan santai di taman.
Mereka yang Tidak Setuju
Gak semua merasa slow living itu cocok:
• Takut ketinggalan momen atau peluang – merasa ritme yang lebih pelan akan membuatnya kalah cepat dari orang lain.
• Tekanan dari lingkungan – budaya kerja yang menghargai kesibukan membuat “lambat” terkesan negatif.
• Gak sesuai dengan situasi hidup – misalnya, orang dengan tanggung jawab besar dan jadwal padat mungkin kesulitan menerapkannya.
Sehari dalam Hidup dengan Prinsip Slow Living
Bayangkan kamu bangun pagi tanpa alarm yang membuat kaget. Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela. Kamu meregangkan badan, lalu berjalan ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat.
Sarapan sederhana disiapkan tanpa terburu-buru, lalu menikmatinya di meja makan sambil memandangi halaman. Pekerjaan dimulai setelah pikiran terasa segar. Saat bekerja, kamu fokus pada satu hal saja, tanpa membuka sepuluh tab browser sekaligus.
Siang hari, makan siang benar-benar digunakan untuk makan, bukan untuk multitasking. Sore diisi dengan berjalan kaki di lingkungan sekitar, menyapa tetangga, atau duduk di taman sambil membaca buku.
Malamnya, ponsel diletakkan, musik lembut diputar, dan kamu menghabiskan waktu menulis jurnal atau ngobrol hangat dengan keluarga sebelum tidur.
Bagaimana Menanggapi dan Mempraktekkan Slow Living
Gak semua orang bisa atau mau mengubah ritme hidup secara drastis. Tapi bagi yang ingin mencoba, bisa di mulai dari sini :
• Mulai dari satu momen sehari, misalnya sarapan tanpa layar ponsel.
• Fokus pada satu hal dalam satu waktu, coba untuk hentikan kebiasaan multitasking yang berlebihan.
• Sisihkan waktu luang tanpa agenda, misalkan dengan membiarkan ada ruang untuk spontanitas.
• Hargai proses, bukan hanya hasil, misalnya menikmati proses merakit perabot sendiri meski butuh waktu lebih lama.
Keuntungan dan Potensi Tantangan Slow Living
Keuntungan
• Kesehatan mental lebih baik, stress berkurang karena ritme hidup gak terlalu menekan.
• Hubungan lebih dekat, kehadiran yang penuh membuat interaksi lebih hangat.
• Produktivitas yang lebih bermakna, maksudnya pekerjaan diselesaikan dengan kualitas, bukan hanya kuantitas.
• Keseimbangan hidup, jadi ada waktu untuk bekerja, istirahat, dan menikmati hidup.
Potensi Tantangan
• Penyesuaian dengan lingkungan karena gak semua orang atau tempat menghargai ritme yang pelan.
• Takut dianggap gak ambisius karena di budaya yang menuntut kecepatan, sehingga lambat sering disalahartikan.
• Butuh latihan kesabaran karena membiasakan diri untuk gak buru-buru butuh proses.
Pandangan untuk Diresapi
Slow living bukan ajakan untuk menghentikan semua aktivitas atau meninggalkan ambisi. Ini adalah pengingat bahwa hidup bukan sekadar daftar pencapaian yang harus dicentang secepat mungkin.
Bagi sebagian orang, memperlambat langkah justru memberi ruang untuk menemukan makna yang hilang di tengah kesibukan. Bagi yang lain, ritme cepat tetap menjadi pilihan terbaik. Keduanya sah-sah saja.
Mungkin kita gak perlu langsung mengubah hidup sepenuhnya. Cukup mulai dari satu momen sehari untuk benar-benar hadir. Siapa tahu, dari situ kita belajar bahwa terkadang, pelan itu justru membawa kita lebih jauh.
“Hidup bukanlah perlombaan. Kadang, keindahan ada di langkah yang kita ambil dengan tenang.”
👉 Kalau mau mulai menulis jurnal, cek rekomendasi buku jurnal ini
Artikel lain yang mungkin kamu suka :
