Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.
Pagi ini aku duduk diam, memandangi cahaya matahari yang pelan-pelan masuk lewat celah jendela. Ada rasa hangat yang singgah, tapi entah kenapa di sudut hati, tetap ada ruang kosong. Ruang itu seperti terus mengingatkan bahwa hidupku belum lengkap.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, “Kapan ya semua ini terasa utuh?” Mungkin ketika mimpi tercapai, ketika hati gak lagi kecewa, atau ketika semua hal yang kuinginkan ada di genggaman. Tapi entah kenapa, “nanti” itu terasa jauh sekali.
Aku tersadar, terlalu sering mataku tertuju pada yang belum ada, sampai lupa melihat apa yang sudah hadir. Padahal, pagi ini saja, ada banyak hal kecil yang menemaniku bertahan. Udara segar yang memenuhi paru-paru. Secangkir minuman hangat yang terasa seperti pelukan kecil untuk tubuh. Suara burung di kejauhan. Dan kenyataan sederhana bahwa aku masih di sini dan masih punya kesempatan untuk mencoba lagi.
Bersyukur, kata itu sering terdengar klise. Tapi ternyata, menghargai hal-hal kecil bukan berarti aku berhenti bermimpi besar. Justru itu cara untuk mengisi kekosongan, sedikit demi sedikit, sampai suatu hari aku menyadari wadah itu sudah penuh.
Hidup jarang memberi semua yang kuinginkan sekaligus. Kadang hanya potongan-potongan kebahagiaan di sela-sela badai. Kadang diberi waktu untuk merasakan kehilangan, agar nanti aku lebih menghargai saat sesuatu hadir kembali. Dan kadang, hanya diberi pagi yang tenang sebagai pengingat bahwa hidup masih punya ruang untuk diperbaiki.
Hari ini, aku ingin melangkah pelan. Gak harus menyelesaikan semua masalah sekaligus. Gak perlu punya semua jawaban. Cukup fokus pada satu hal yang membuatku bertahan dengan mendengarkan lagu favorit, merapikan meja, atau sekadar menatap langit dan mengingat bahwa aku masih di sini.
Aku terlalu sering menunggu “hari besar” yang akan mengubah hidup, padahal hidup ini dibangun dari hari-hari kecil yang dijalani sepenuh hati. Mungkin, pagi ini akan menjadi salah satunya, bukan karena ada sesuatu yang spektakuler, tapi karena aku memilih untuk hadir sepenuhnya.
Hidupku gak rusak hanya karena ada bagian yang hilang. Seperti langit pagi yang tetap indah walau ada awan, aku juga tetap berarti walau belum sempurna.
Jadi, hari ini aku ingin mencoba satu hal, mengingat tiga hal kecil yang patut aku syukuri. Lalu membiarkan hal-hal itu menjadi jangkar saat hati terasa goyah.
Aku tahu, aku belum sampai di titik yang kuinginkan. Tapi aku sudah melangkah sejauh ini. Dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk bangga pada diri sendiri.
Pagi ini, aku memilih untuk percaya pada proses, pada waktu dan pada diriku sendiri.
Selamat pagi, Semoga hari ini lembut untukku, dan untuk siapa pun yang juga sedang belajar mencintai hidup apa adanya.
🎥 Temukan versi video dari tulisan ini di YouTube
Klik tombol di bawah dan bergabunglah bersama Kata Kita untuk menikmati konten reflektif setiap hari.
Pernahkah kamu merasa bahwa satu hari saja bisa memuat begitu banyak rasa? Tanpa kamu sadari, dari pagi hingga malam, kita melewati perjalanan emosional yang begitu halus, begitu sunyi, tapi membekas.
Ada pagi yang kosong, siang yang penuh penyesalan, dan malam yang sunyi tak berujung. Kadang kita tertawa, kadang hanya diam. Kadang terlihat kuat, padahal sedang hancur di dalam. Hari itu gak ada peristiwa besar, tapi hatimu sibuk bertahan.
“Sehari Bersama Rasa” adalah perjalanan pelan tapi nyata. Tentang emosi yang gak terucap. Tentang hati yang terus berdetak walau lelah. Tentang kamu yang tetap bertahan.
Bagian 1: Pagi – Bangun dengan Perasaan Kosong
Pagi seharusnya tentang harapan baru. Tapi gak semua pagi datang dengan semangat. Ada pagi yang begitu sunyi, begitu berat, padahal matahari tetap bersinar seperti biasa. Tapi kamu tahu, ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang mengganjal di dada. Bukan alarm yang membangunkanmu. Tapi rasa kosong.
Rasa yang gak bisa dijelaskan. Seperti tertinggal di tempat tidur padahal tubuhmu sudah berdiri. Seperti hadir, tapi gak benar-benar ada. Kamu membuka mata tapi gak benar-benar bangun.
Pagi itu kamu hanya duduk diam. Menatap langit-langit kamar. Menunggu energi yang entah kapan datang. Gak ada suara, tapi pikiranmu riuh. Perasaanmu seperti kamar kosong yang terang tapi hampa.
Mungkin kamu kelelahan, bukan karena tidurmu kurang. Tapi karena semalam kamu terlalu sibuk pura-pura baik-baik saja. Dan pagi ini, semua diam itu kembali mengepung.
Terkadang, gak ada yang bisa kamu lakukan kecuali menarik napas dan memilih untuk tetap bangun. Karena itu saja sudah cukup. Kamu gak perlu menyelamatkan dunia hari ini tapi cukup selamatkan dirimu sendiri.
Bagian 2: Menjelang Siang – Berpura-pura Baik-baik Saja
Jam mulai merangkak ke angka sepuluh. Cahaya matahari masuk lebih terang. Suara kendaraan makin ramai. Dunia tampak sibuk, dan kamu masih mencoba mengejar ritme itu. Tapi ada satu hal yang kamu bawa sejak pagi yaitu kekosongan.
Hanya saja, sekarang kamu sudah memakai topengnya yaitu “senyum”.
Bukan karena kamu sedang bahagia, tapi karena itu cara paling aman untuk tetap terlihat normal. Supaya gak ada yang bertanya “kamu kenapa?” karena jujur saja, kamu pun gak tahu jawabannya.
Di depan orang-orang, kamu tertawa kecil, ikut bercanda, dan membalas pesan seolah semuanya baik-baik saja. Tapi hanya kamu yang tahu bahwa senyum itu kosong. Bahwa setiap “nggak apa-apa kok” itu bohong kecil yang kamu latih tiap hari.
Kamu menyeduh kopi, duduk di meja kerja, membuka layar ponsel atau laptop tapi isi kepalamu penuh pikiran yang gak bisa dijelaskan. Dan hati masih sibuk menahan semua yang gak bisa tumpah.
Kamu terlalu sering berpura-pura. Sampai kamu lupa rasanya jujur pada diri sendiri.
Tapi itu bukan salahmu. Dunia terlalu keras untuk mereka yang jujur soal rasa. Jadi kamu memilih bertahan dengan caramu yaitu senyuman.
Dan di balik senyum itu, kamu berharap, semoga ada yang benar-benar melihatmu.
Bagian 3: Siang – Rasa yang Gak Sempat Diungkap
Waktu menunjuk pukul satu siang. Mungkin kamu masih duduk di ruang makan, di depan layar kerja, atau bahkan berdiri di luar sambil memandangi langit. Dari luar, kamu terlihat biasa. Tapi di dalam hatimu, ada sesuatu yang terasa mengganjal.
Rasa.
Rasa yang gak pernah sempat diungkapkan.
Bukan karena kamu gak mau tapi karena kamu terlalu takut, takut ditolak. Takut kehilangan. Takut merusak apa yang sudah nyaman. Jadi kamu memilih diam.
Seseorang pernah begitu berarti. Kamu perhatikan dari jauh. Kamu hafal caranya tertawa, caranya berbicara, caranya menyentuh dunia dengan caranya yang sederhana. Tapi kata-kata yang ingin kamu ucapkan selalu kamu telan kembali.
“Kamu tahu nggak sih… aku sebenarnya sayang banget.”
Tapi kalimat itu hanya hidup di dalam kepala.
Sampai akhirnya, waktu membawa mereka pergi. Entah karena kesempatan yang gak datang dua kali, atau karena kamu terlalu lama menunggu waktu yang sempurna yang ternyata gak pernah benar-benar ada.
Dan sekarang, kamu cuma bisa mengingat. Kadang senyum, kadang nyesek. Karena kamu tahu kalau bukan mereka yang salah untuk pergi. Tapi kamu yang gak pernah berani memintanya tinggal.
Rasa itu tetap ada. Tapi tempatnya sudah kosong.
Dan siang ini, kamu belajar bahwa diam juga bisa menjadi penyesalan.
Bagian 4: Sore – Kamu yang Pernah, Tapi Gak Pernah Kembali
Matahari mulai turun perlahan, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Sore adalah waktu yang tenang atau justru terlalu sepi. Apalagi buat seseorang yang hatinya belum benar-benar pulih.
Pernah nggak sih kamu merasa seseorang itu pernah jadi seluruh semestamu?
Dulu, dia adalah alasan kamu tersenyum setiap hari. Kamu hafal nadanya, pesan-pesannya, bahkan jeda di antara kata-katanya. Bersamanya, kamu pernah merasa cukup. Lebih dari cukup. Seakan semesta merestui segalanya.
Tapi ternyata waktu juga bisa kejam.
Dia yang dulu begitu dekat, sekarang bahkan jadi asing. Bukan karena pertengkaran, bukan karena saling menyakiti. Tapi karena diam-diam, arah kalian sudah berbeda.
Dia melangkah, dan kamu tertinggal.
Sampai hari ini, mungkin kamu masih menyebut namanya dalam doa. Bukan untuk kembali, tapi supaya kamu bisa benar-benar merelakannya. Supaya dia bahagia meski bukan bersamamu.
Dan kamu tahu, itu yang paling berat, harus menerima bahwa seseorang bisa menjadi segalanya, lalu tiba-tiba .. gak jadi apa-apa.
Sore ini mengajarkan bahwa kehilangan bukan soal siapa yang salah, tapi tentang waktu yang gak lagi berpihak. Dan gak semua yang pernah indah, harus kembali untuk jadi utuh.
Malam pun datang. Lampu-lampu kota menyala, tapi justru makin menegaskan kesendirian. Di luar ramai suara kendaraan, angin yang lalu-lalang, dunia yang tetap berjalan. Tapi di dalam hati… diam.
Kamu masih duduk di tempat yang sama. Sudah berapa malam kamu begitu?
Seakan menunggu sesuatu. Atau lebih tepatnya menunggu seseorang.
Padahal logika sudah bicara, Dia nggak akan datang lagi. Pesannya gak akan masuk lagi. Panggilanmu gak akan dijawab lagi. Tapi ada sisi di dalam dirimu yang tetap berharap walau hanya secuil. Sisi yang diam-diam berdoa, “Mungkin besok dia sadar.” Sisi yang masih menyimpan jejak-jejaknya seperti foto, lagu, aroma, kata terakhir. Dan malam adalah waktu yang kejam untuk mereka yang masih berharap.
Bukan karena malam salah, tapi karena malam memberi ruang untuk rasa yang kamu sembunyikan seharian yaitu rindu.
Rindu yang nggak kamu akui. Rindu yang diam-diam bikin sesak.
Terkadang bukan kepergiannya yang menyakitkan, tapi kenangan yang dia tinggalkan. Karena kamu nggak tahu harus diapakan semua itu.
Jadi malam ini, kamu cuma bisa duduk dan menunggu meskipun kamu tahu dia gak akan kembali. Tapi siapa tahu dengan kamu bertahan, kamu bisa berdamai. Dan itu sudah cukup.
Bagian 6: Sebelum Tidur – Terima Kasih, Aku Masih Bertahan
Hari ini gak mudah. Pagi diawali dengan kosong. Siang penuh penyesalan. Sore diisi dengan bayang-bayang yang hilang. Dan malam… malam dihabiskan bersama rindu yang gak pernah dijemput.
Tapi lihat dirimu sekarang. Kamu masih di sini, masih hidup, masih bernapas, masih berusaha. Mungkin kamu merasa gak ada yang berubah. Mungkin kamu kecewa karena masih memikirkan hal yang sama, orang yang sama, luka yang sama. Tapi kamu lupa satu hal kecil yang sangat penting yaitu Kamu berhasil melewati hari ini, melewati semua rasa meskipun dengan air mata, meskipun dengan kelelahan yang gak kelihatan oleh siapa pun.
Dan itu bukan hal kecil.
Bertahan di dunia yang sibuk menyuruhmu untuk kuat padahal kamu rapuh, itu butuh keberanian. Bertahan saat kamu gak punya siapa-siapa untuk mengerti, itu butuh kekuatan. Dan kamu sudah melakukannya.
Malam ini, sebelum tidur…Ucapkan terima kasih pada dirimu sendiri.
Bukan karena kamu sudah sempurna. Tapi karena kamu sudah mencoba. Karena kamu belum menyerah. Karena kamu tetap memilih untuk ada.
Dan semoga besok, pagi menyambutmu bukan dengan rasa kosong, tapi dengan harapan baru.
“Kamu gak harus selalu kuat. Tapi kamu harus cukup jujur untuk tahu kapan harus istirahat, dan cukup berani untuk bangkit lagi.”
Setiap rasa yang kamu alami hari ini bukan kelemahan. Itu adalah bukti bahwa kamu manusia dan bahwa kamu masih punya hati yang hidup.
Besok mungkin rasa yang datang berbeda. Tapi semoga kamu menyambutnya dengan versi dirimu yang lebih lembut, lebih sadar, dan lebih penuh kasih pada diri sendiri.
Ada hari-hari di mana kita merasa segalanya salah. Alarm pagi telat dibalas dengan tubuh yang berat. Pikiran berkabut, semangat meredup. Rencana gagal, kabar baik gak datang, dan hati terasa kosong. Di hari-hari seperti itu, sulit rasanya berkata bahwa kita “baik-baik saja”. Tapi hari ini, meski kamu lelah, kamu masih di sini dan masih bertahan. Dan … Baca Selengkapnya
Ada rindu yang bisa diucapkan. Dan ada rindu yang hanya bisa dilampiaskan lewat pesan singkat, telepon di tengah malam, atau sekadar menyebut namanya dalam doa. Tapi ada juga rindu yang cuma disimpan diam-diam, karena orangnya sudah gak ada lagi di sini.
Hari-hari seperti ini, aku sering duduk sendiri, menatap langit yang abu-abu atau langit-langit kamar yang hampa. Ada momen-momen tertentu yang membuat hati terasa sesak tanpa sebab. Tapi sebenarnya aku tahu ini adalah rindu. Rindu yang gak punya tujuan. Rindu yang gak akan pernah sampai, karena orang yang aku rindukan sudah pergi.
Aku gak sempat mengucapkan apa-apa
Lucu ya, kadang kita menganggap orang yang akan selalu ada. Kita menunda banyak hal, dari ucapan terima kasih, kata maaf, atau bahkan “aku sayang kamu”. Kita berpikir akan selalu ada waktu esok untuk bicara, untuk menjelaskan, untuk memperbaiki. Tapi ternyata, waktu gak menunggu kita siap.
Aku kehilangan dia, bukan karena salah satu dari kami menyerah, tapi karena semesta memanggilnya lebih dulu. Kepergian yang gak bisa dinegosiasikan, gak bisa dicegah, dan gak bisa dipeluk untuk terakhir kalinya.
Yang tersisa hanyalah diam.
Dan sejak saat itu, aku hidup dengan kerinduan yang gak bisa kuantar ke mana pun.
Rindu yang gak bernyawa
Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan seseorang. Tapi kehilangan kesempatan, kesempatan untuk memeluk, mendengar tawa, menatap mata, atau hanya duduk berdampingan tanpa bicara. Ada hari-hari di mana aku ingin sekali menceritakan sesuatu padanya. Tentang hidupku sekarang, tentang hal-hal lucu yang terjadi hari ini, tentang lagu yang baru aku temukan dan tahu dia pasti akan suka.
Tapi gak ada lagi balasan. Gak ada lagi “kita”.
Rindu ini terasa seperti berjalan menuju pintu yang gak akan pernah dibuka lagi.
Aku pernah berpikir rindu akan pudar dengan berjalannya waktu. Tapi ternyata, waktu gak selalu menyembuhkan. Ia hanya membuat kita lebih pandai menyembunyikan luka. Dan saat malam tiba, ketika semua kesibukan berhenti, sunyi akan mengetuk hati. Lalu rindu datang seperti tamu lama yang tahu di mana tempatnya duduk.
Kadang aku menangis. Kadang hanya diam. Kadang tertawa kecil mengenang memori, lalu menangis diam-diam setelahnya. Gak ada formula pasti untuk mengobati kehilangan. Yang ada hanyalah cara kita bertahan dengan rindu yang gak lagi bisa dipeluk.
Berdamai tanpa menghapus
Ada masa di mana aku marah pada semesta, pada hidup, bahkan pada diriku sendiri. Kenapa gak lebih cepat untuk bicara? Kenapa gak lebih sering menunjukkan rasa? Kenapa harus pergi secepat itu?
Tapi aku sadar, semua pertanyaan itu gak akan membawa dia kembali. Yang bisa kulakukan hanyalah berdamai. Bukan dengan melupakan, tapi dengan menerima bahwa ada cinta yang tetap hidup dalam kenangan.
Aku belajar bahwa berdamai bukan berarti gak lagi merindukan. Tapi berdamai adalah saat kamu mampu berjalan, meski dengan rindu yang tetap kamu bawa.
Hari ini Aku menulis untukmu
Hari ini, aku memilih untuk menulis. Bukan karena aku sudah sepenuhnya kuat, tapi karena aku ingin suaraku terdengar, meski hanya oleh angin.
Kamu mungkin gak bisa membaca ini. Tapi jika rindu bisa menembus dimensi, maka biarlah kata-kata ini terbang ke sana, ke tempat di mana kamu sekarang berada.
Aku masih merindukanmu. Dan mungkin akan terus begitu.
Tapi aku juga mulai bisa tertawa lagi. Mulai bisa bercerita tanpa air mata. Mulai bisa melihat dunia dan berkata: “Aku akan baik-baik saja.”
Rindu yang gak pernah salah
Rindu itu gak salah. Meskipun ia menyakitkan, rindu adalah tanda bahwa cinta pernah hidup. Ia adalah bukti bahwa seseorang pernah begitu berarti. Jadi jika kamu juga sedang merindukan seseorang yang sudah pergi, entah ke tempat jauh, entah ke dunia yang lain, tapi ketahuilah, kamu gak sendiri.
Rasa itu valid. Tangismu valid. Dan waktumu untuk sembuh, gak perlu terburu-buru.
Untukmu yang masih ada
Tulisan ini kutujukan untuk dia yang telah pergi dan juga untuk kamu yang sedang membaca ini dan mungkin memeluk rindu yang sama.
Aku tahu rasanya ingin berbicara tapi gak bisa. Ingin memeluk tapi hanya bisa membayangkan. Tapi rindu seperti ini gak sia-sia. Ia adalah bagian dari kita yang sedang belajar kehilangan dengan cara paling manusiawi.
Jadi gak apa jika malam ini kamu menangis. Gak apa jika masih berharap bisa bermimpi bertemu dengannya. Karena sejauh-jauhnya kepergian, cinta tetap tinggal di tempat yang paling dalam yaitu hati kita.
Dan mungkin, dari kejauhan yang gak terlihat, mereka juga sedang merindukan kita.
“Karena rindu yang gak sampai, tetaplah rindu yang indah kalau kita belajar mengubahnya jadi doa dan kenangan yang membawa damai.”
Pernah merasakan rindu yang tak bisa kamu sampaikan? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, biar bisa saling menguatkan.
Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.
“Cinta yang paling tulus, sering kali gak datang dengan kata-kata. Ia gak selalu hadir lewat pengakuan, gombalan, atau janji manis. Kadang, cinta hanya menunjukkan dirinya dalam diam, lewat tatapan yang lama, lewat perhatian yang konsisten, atau lewat kehadiran yang gak pernah absen.”
Tapi, bagaimana kita tahu bahwa seseorang menyimpan rasa cinta pada kita saat mereka sendiri memilih untuk gak mengungkapkannya?
Jawabannya gak selalu pasti. Namun, hati yang peka biasanya bisa merasakannya, karena cinta meski disembunyikan, selalu menemukan celah untuk terlihat.
1. Dari cara Dia melihatmu
Mata adalah jendela hati, dan sering kali orang yang mencintai akan memandangmu dengan cara yang berbeda.
Tatapannya mungkin gak selalu berani, tapi selalu lembut. Ada ketenangan, sekaligus kegugupan. Dia menatapmu seolah sedang membaca buku favoritnya secara berulang kali, tanpa bosan, dan selalu menemukan makna baru.
Kadang Dia mencuri pandang saat kamu tak sadar, tapi segera mengalihkan mata saat kamu membalas. Karena cinta yang belum diungkap selalu takut terlihat.
2. Dari perhatian kecil yang konsisten
Orang yang mencintaimu diam-diam akan memperhatikan hal-hal kecil tentangmu. Dia tahu makanan favoritmu, lagu yang kamu dengarkan saat sedih, atau bagaimana kamu akan diam saat sedang lelah.
Dia mungkin gak selalu ada di garis depan dalam hidup kamu, tapi selalu ada dalam bayangan yang siap menolongmu saat jatuh. Dia menanyakan hal-hal sederhana seperti, “Udah makan belum?” atau “Kamu capek ya?” tapi dalam kalimat sederhana itu, tersembunyi rasa yang gak pernah habis.
Cinta yang tulus gak selalu berbicara dengan lantang. Ia hanya hadir, berkali-kali, tanpa kamu minta.
3. Dari usaha untuk tetap dekat meskipun gak ada alasan
Seseorang yang menyimpan perasaan akan selalu mencari alasan untuk dekat. Dia akan muncul di tempat yang sama, mencoba terlibat dalam hal-hal kecil dalam hidup kamu, dan berusaha menjadi bagian dari hari-harimu, meski kamu tak pernah benar-benar memintanya.
Dia gak akan memaksakan dirinya, tapi selalu muncul tepat saat kamu butuh teman. Seolah semesta mengirimkan dia di waktu yang pas, padahal mungkin dia sudah menunggu cukup lama di balik layar, hanya untuk memastikan kamu gak merasa sendiri.
4. Dari diam yang tersembunyi
Sebenarnya orang yang mencintai diam-diam justru lebih sering menjadi orang yang paling pendiam di sekitarmu. Dia mungkin gak banyak bicara, gak berani menyatakan perasaannya, tapi setiap diamnya adalah peperangan antara mau mengungkapkan dan takut kehilangan.
Dia diam bukan karena gak peduli. Tapi karena takut, kalau kata-kata itu keluar, kamu akan menjauh. Diamnya adalah perlindungan, baik buat kamu maupun buat dia.
Cinta sejati gak selalu menuntut. Seseorang yang benar-benar mencintaimu akan menjaga jarak ketika kamu butuh ruang. Dia akan tetap ada tanpa memaksamu untuk memilih.
Dia mungkin gak selalu ada di depan matamu, tapi kamu tahu kapan pun kamu jatuh, dia akan muncul dan memelukmu tanpa bertanya.
Dia gak mengikat, tapi membuatmu merasa aman. Dia gak menuntut balasan, tapi selalu mendoakan dari jauh.
6. Dari perasaannya yang gak pernah berubah meski waktu berlalu
Salah satu ciri cinta yang tersimpan adalah konsistensinya. Waktu boleh berjalan, jarak boleh memisahkan, tapi rasa itu tetap ada. Ia gak pudar hanya karena waktu, gak goyah meski kamu gak pernah menjawab.
Dan yang mencintai dengan diam biasanya juga mencintai dalam waktu yang panjang. Dia menyimpan rasa, meski gak tahu kapan akan ada ruang untuk mengungkapkannya.
Tapi gimana kalau kita salah membaca?
Itulah risiko dari cinta yang gak pernah terucap. Semuanya menjadi teka-teki. Kita hanya bisa menebak dari isyarat. Dan dalam dunia penuh kode seperti ini, salah paham bisa terjadi.
Namun, lebih baik salah paham karena berusaha merasakan daripada gak pernah mencoba memahami sama sekali.
Kadang, kita perlu bertanya pada hati sendiri, “Apakah aku benar-benar merasa dicintai oleh dia? Atau hanya ingin merasa begitu?”
Kalau kamu tahu Dia mencintaimu, Tapi gak berani mengungkapkannya…
Jadi terserah kamu, apakah kamu mau membantunya mengungkap, atau membiarkan rasa itu tetap menjadi rahasia.
Tapi ada satu hal yang pasti, seseorang yang mencintaimu dengan tulus akan tetap ada, bahkan saat cintanya gak berbalas. Dan kadang, cinta semacam itu justru yang paling menyakitkan sekaligus paling mulia.
Karena gak semua cinta harus dimiliki. Ada cinta yang cukup hanya dengan tahu bahwa kamu bahagia, walaupun bukan bersamanya.
“Kita gak selalu butuh kata-kata untuk tahu bahwa seseorang mencintai kita. Cinta diam memiliki bahasanya sendiri. Ia berbicara lewat tatapan, perhatian, kehadiran, dan kesabaran.”
Jika kamu sedang bertanya-tanya, apakah seseorang menyimpan perasaan kepadamu, dengarkan baik-baik getaran kecil dalam hatimu. Karena hati yang mencinta akan selalu menemukan hati yang merasakannya.
Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.
“Refleksi tentang bagaimana ego menghancurkan cinta. Saat gengsi lebih tinggi dari keberanian untuk bertahan, kita bisa kehilangan yang paling kita sayang.”
Ada cinta yang hancur bukan karena takdir, bukan juga karena orang ketiga atau karena waktu yang memisahkan. Tapi karena satu hal yang sering tak kita sadari, yaitu ego.
Ego gak selalu berteriak atau selalu marah-marah, kadang ia muncul dalam bentuk yang lebih tenang. Misalnya seperti memilih diam padahal mau mendekat,
seperti gak mau memulai padahal sangat rindu, atau seperti berkata “gak apa-apa”, padahal ada luka yang belum reda.
Pernah gak sih, merasa begini? Saling cinta, tapi kok malah saling menyakiti?
Kita tahu kalau dia masih peduli, kita juga belum mau pergi. Tapi gak ada yang mau memulai duluan. Gak ada yang mau mengalah lebih dulu.
Dan akhirnya? Keduanya saling menjauh, perlahan tapi pasti.
Cinta itu butuh keberanian.
Keberanian untuk membuka hati dan minta maaf walau merasa bukan kita yang salah. Dan keberanian untuk bilang, “aku masih ingin kita baik-baik saja.”
Tapi ketika ego bicara, semua keberanian itu menjadi hilang.
Yang ada hanya tinggal gengsi, diam, dan harapan yang digantung sendiri.
Ego itu suara dalam diri yang terlalu ingin diakui.
Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan “harga diri”, sampai lupa mempertahankan hubungan yang kita sendiri perjuangkan dari awal.
Ego bilang:
“Kalau kamu ngalah, berarti kamu kalah.”
“Kalau kamu minta maaf, berarti kamu yang salah.”
“Kalau kamu duluan yang nyari, berarti kamu terlalu lemah.”
Padahal kenyataannya, kadang justru yang minta maaf duluan itu yang paling berani. Yang memulai duluan itu yang paling peduli. Dan yang mengalah bukan berarti kalah melainkan lebih cinta.
Aku masih sayang, tapi aku kehilangan
Lucunya, setelah semua saling diam itu selesai, yang tertinggal bukan rasa lega, tapi kehilangan.
Kita kehilangan seseorang yang seharusnya masih bisa bertahan.
Kita kehilangan momen-momen kecil yang pernah membuat hati kita hangat.
Kita kehilangan peluang untuk tumbuh bersama hanya karena gak mau menurunkan suara, gak mau memeluk lebih dulu. Padahal cinta itu masih ada. Tapi hubungannya sudah gak bisa kembali seperti semula.
Bukan karena cinta yang hilang, tapi karena waktu sudah terlalu banyak terlewat tanpa adanya keberanian untuk memperbaiki.
Jika waktu bisa diulang.
Kalau saja waktu bisa diulang, aku mau kembali ke titik di mana kita hanya saling genggam tangan tanpa mempertanyakan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Aku mau memeluk lebih erat di saat kita sedang dingin-dinginnya.
Aku mau bilang,
“Kita boleh berbeda, tapi kita gak harus saling meninggalkan.” “Aku mau kita memperbaiki, bukan saling membuktikan siapa yang lebih baik.”
Tapi waktu gak bisa diulang.
Dan cinta, jika dibiarkan menunggu terlalu lama, akhirnya lelah juga.
Ego itu harusnya menjaga diri, bukan mengusir orang yang kita cinta
Ego seharusnya juga ada untuk menjaga batas.
Tapi jangan sampai ego membuatmu mengusir seseorang yang sebenarnya hanya ingin dipeluk lebih kuat.
Jangan sampai kamu merasa kuat, padahal sebenarnya kamu sedang perlahan kehilangan.
Menahan diri memang perlu, tapi menahan rasa sayang itu menyakitkan.
Lebih baik jujur daripada menutup diri dan akhirnya menyesal kehilangan seseorang yang sebenarnya masih mau bertahan.
Belajar dari rasa kehilangan Itu
Mungkin kamu pernah mengalami ini.
Mungkin kamu adalah orang yang bertahan, atau justru yang pergi.
Tapi dari semua rasa sakit itu, kita belajar bahwa cinta itu bukan soal menunggu siapa yang berubah duluan.
Cinta itu soal siapa yang berani jujur, siapa yang berani mencintai dengan rendah hati.
Kadang kita terlalu sibuk menjaga harga diri, sampai kita kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar tulus.
Dan saat semuanya sudah terlambat, barulah kita sadar, ternyata yang harus kita lepaskan duluan bukan dia tapi ego kita sendiri.
Jadi…
Kalau kamu masih cinta, tapi sudah kehilangan, mungkin kamu sudah tahu betapa mahalnya harga diam. Betapa menyakitkan gengsi yang gak perlu.
Maka kalau suatu hari nanti kamu diberi kesempatan mencintai lagi, ingatlah! jangan tunda untuk jujur, jangan tunda untuk memeluk lebih dulu.
Dan jangan pernah merasa kalah hanya karena kamu mencintai lebih banyak.
Karena cinta gak mencari siapa yang paling benar,
tapi siapa yang paling berani untuk tetap bertahan meski sedang disakiti.