Kadang kita butuh kata-kata sederhana untuk mengingatkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Berikut 10 Quotes Motivasi yang bisa jadi penyemangatmu hari ini :
Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.
Untukmu, Yang Sedang Belajar Sembuh
Sayang,
Aku tahu… di dalam hatimu, ada ruang yang pernah retak. Retakan itu bukan muncul karena aku, tapi karena masa lalu yang pernah melukai. Dan meski kita berjalan bersama hari ini, aku bisa merasakan ada bagian dari dirimu yang masih menyimpan luka itu erat-erat. Bukan karena kamu ingin, tapi karena belum tahu cara melepaskannya.
Aku mengerti, sayang. Luka seperti itu gak hilang hanya karena kita mau. Ada hari-hari ketika kamu bisa tersenyum lebar, bercanda seperti dunia ini baik-baik saja, tapi ada juga hari-hari ketika matamu menyimpan mendung, dan aku tahu itu bukan karena aku, tapi karena sesuatu yang pernah terjadi padamu.
Kadang, di momen-momen itu, kamu memilih diam. Menarik diri. Merenung sendirian. Mungkin kamu berpikir itu lebih aman, agar gak ada yang tersakiti oleh kata atau sikap yang mungkin keluar tanpa sengaja. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa keheninganmu juga berbicara. Aku mendengarnya. Aku merasakannya. Dan meskipun aku bisa memahami alasanmu, aku juga ingin menjadi tempat di mana kamu merasa aman untuk tetap ada, bahkan ketika hatimu berantakan.
Aku tahu kamu mencintaiku. Aku gak pernah meragukan itu. Hanya saja, mencintai dalam keadaan terluka memang gak mudah. Kadang kita jadi takut. Takut mengulang kesalahan. Takut kehilangan lagi. Takut membuat orang yang kita sayangi terluka karena luka kita sendiri. Aku tahu rasa takut itu ada di dalam dirimu, dan aku gak akan memaksa rasa itu pergi sebelum kamu siap.
Tapi dengar aku, sayang… kita gak harus melawan semua ini sendirian. Aku gak di sini untuk memperbaiki masa lalumu, karena itu bukan tugasku. Aku di sini untuk menemanimu melewati hari demi hari, sambil mengingatkan bahwa gak semua orang yang datang akan pergi. Bahwa ada orang yang mau tinggal, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.
Aku gak akan menyangkal, kadang sikapmu melukaiku. Bukan karena niat, tapi karena cara lukamu bekerja. Dan aku pun belajar untuk mengenali kapan aku perlu merengkuhmu, dan kapan aku perlu memberi ruang. Cinta yang sehat memang bukan tentang selalu menempel tanpa jeda, tapi tentang tahu kapan kita saling mendekat, dan kapan memberi napas.
Aku ingin kita bertumbuh, sayang. Bukan hanya sebagai pasangan, tapi sebagai dua manusia yang sama-sama sedang belajar. Aku percaya, proses ini akan membuat kita lebih kuat meski jalannya lambat, meski kadang melelahkan. Aku percaya kita akan sampai di titik di mana luka itu bukan lagi penjara, tapi bagian dari cerita yang membentuk kita.
Jangan takut kalau perjalanan ini panjang. Aku gak sedang menghitung hari untuk ‘menunggu kesembuhanmu’. Aku sedang memilih untuk berjalan bersamamu. Aku gak mau kamu merasa tertekan untuk menjadi ‘sempurna’ demi hubungan ini. Aku hanya ingin kamu mau jujur, bukan hanya padaku, tapi pada dirimu sendiri, tentang apa yang kamu rasakan, apa yang kamu takutkan, dan apa yang kamu butuhkan.
Aku percaya cinta bukan sekadar rasa, tapi juga pilihan. Dan aku memilih kamu, lengkap dengan masa lalumu, rasa takutmu, dan impianmu. Bukan berarti aku gak punya batas, tapi aku tahu cinta ini cukup besar untuk memberi ruang bagi kita berdua.
Untuk kamu yang sedang belajar mencintai di tengah proses penyembuhan, ijinkan aku mengingatkan satu hal bahwa kamu berhak dicintai, bahkan sebelum kamu ‘selesai’ sembuh. Dan aku akan mengingatkan itu setiap kali kamu lupa.
Aku berharap suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang, kamu akan melihat betapa jauh kamu sudah melangkah. Dan saat itu, mungkin kamu akan tersenyum, bukan karena luka itu hilang, tapi karena kamu berhasil hidup berdampingan dengannya tanpa lagi merasa hancur.
Kita akan baik-baik saja, sayang. Bukan karena hidup ini mudah, tapi karena kita memilih untuk saling menggenggam tangan meski jalannya terjal. Aku akan tetap di sini, bukan untuk menyelamatkanmu, tapi untuk berjalan bersamamu, satu langkah demi satu langkah.
Ada masa dalam hidup di mana langkah kita melambat. Jalan yang tadinya lancar tiba-tiba terasa macet. Kita berhenti sebentar dan menunggu, mengamati orang-orang di sekeliling kita sambil bertanya-tanya, kapan kita bisa bergerak lagi.
Di masa seperti itu, kita sering kali terjebak dalam kebisuan, bukan karena gak tahu apa yang harus kita lakukan, tapi karena kita ragu apakah langkah selanjutnya akan membawa kita ke tempat yang lebih baik atau justru membuat kita kehilangan apa yang sudah ada.
Namun, di tengah jeda itu, ada satu hal penting yang sering kita lupakan yaitu batas. Batasan yang kita buat untuk melindungi diri, menjaga energi kita dan memastikan bahwa kita gak akan kehilangan arah.> Tonton Shorts: “Pelan bukan berarti tertinggal”
Menarik Garis untuk Menjaga Ruang
Menetapkan batasan bukan berarti kita menolak orang lain. Tapi sebaliknya batasan yang sehat adalah bentuk penghargaan, baik itu untuk diri sendiri maupun untuk orang lain di sekitar kita. Batas mengajarkan kita untuk mengatakan, “Ini ruangku, dan aku ingin menjaganya tetap aman.”
Tapi seringkali, batasan itu hanya ada di pikiran, belum menjadi nyata. Kita “mencoba” untuk tegas, namun hanya sebatas mengisyaratkan. Padahal, orang lain lebih mudah melanggar batasan yang samar karena orang lain gak tahu di mana mereka harus berhenti.
Kita perlu keberanian untuk mengubah batas itu menjadi lebih jelas. Gak perlu keras tapi cukup dengan konsisten. Karena batas yang jelas akan memudahkan orang untuk menghormatinya.
Tetap Setia pada Identitas Diri
Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu orang-orang yang salah mengartikan kita ini siapa. Ada yang melihat kita dari sudut pandang yang keliru, menempelkan label yang gak sesuai, atau menilai kita tanpa mengenal lebih jauh dulu.
Di saat seperti itu, sebenarnya kita punya pilihan dengan berusaha keras membuktikan diri kepada mereka atau kita memilih untuk kembali ke “rumah” dan lingkungan yang benar-benar mengenal kita.
Kembali ke rumah kita bukan berarti mundur. Itu adalah langkah untuk mengisi ulang energi, agar kita bisa melangkah lagi dengan lebih mantap tanpa harus kehilangan jati diri kita yang sebenarnya.
Gangguan yang Tidak Mau Berhenti
Ada situasi di mana kita sudah menunjukkan ketidaknyamanan dengan jelas, tapi orang lain tetap saja melakukan hal yang mengganggu. Seolah-olah sinyal dari kita gak pernah sampai.
Di titik ini, kita belajar bahwa gak semua orang akan menghormati batas kita, bahkan setelah kita mengatakannya. Ada yang memang gak peka, ada pula yang sengaja untuk menguji seberapa jauh mereka bisa melangkah.
Penting untuk memahami satu hal lagi, yaitu kita perlu mengkomunikasikan bahwa batas adalah tanggung jawab kita dan menghargai batas adalah tanggung jawab mereka. Jika mereka gak menghormati, kita perlu untuk memutuskan apakah kita akan bertahan sambil menjaga jarak atau kita harus meninggalkan ruang itu sepenuhnya.
Waspada terhadap “Kursi Panjang”
Kadang kita menemukan diri kita yang sedang duduk di “kursi panjang” dimana itu merupakan zona nyaman yang sebenarnya gak nyaman juga. Kita menunggu suatu perubahan dan menyadari sebenarnya perubahan itu gak akan datang jika kita hanya duduk diam.
Kursi panjang memberi ilusi bahwa kita sedang beristirahat, padahal kita sedang menunda suatu keputusan penting. Semakin lama kita duduk di sana dan kita semakin sulit untuk berdiri.
Jangan biarkan kursi panjang itu menahanmu terlalu lama. Hidup gak akan menunggu sampai kita siap. Kita yang harus memutuskan kapan saatnya untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan.
Saatnya Mengambil Langkah
Menegaskan batas bukan hanya soal berkata “tidak”. Ini juga tentang berkata “ya” pada hal-hal yang benar-benar penting. • Ya pada lingkungan yang menghargai identitas kita. • Ya pada hubungan yang sehat. • Ya pada ruang yang aman untuk bertumbuh.
Kadang langkah ini berarti menjauh dari orang atau situasi yang gak mau berubah. Kadang ini berarti tetap bertahan tapi dengan cara baru, cara yang gak mengorbankan harga diri dan kenyamanan kita.
Refleksi untuk Kita Renungkan bersama 1. Apakah batas yang kamu buat selama ini cukup jelas untuk dipahami orang lain? 2. Siapa saja yang benar-benar mengenal dan menghargai identitasmu tanpa perlu penjelasan panjang? 3. Apakah ada “kursi panjang” yang selama ini kamu duduki terlalu lama? 4. Bagaimana respon orang terdekat saat kamu mengungkapkan ketidaknyamanan? 5. Langkah kecil apa yang bisa kamu lakukan minggu ini untuk membuat batas yang lebih sehat?
Hidup ini terlalu singkat untuk kita menghabiskan waktu di ruang yang membuat kita merasa gak dihargai. Menarik garis bukan berarti kita memutuskan hubungan melainkan kita memastikan hubungan itu tetap sehat.
Kita semua punya hak untuk merasa aman, dihargai, dan menjadi diri sendiri. Dan itu dimulai dari keberanian untuk mengatakan: