CINTA YANG CUMA TENTANG DIA

Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.

 Awalnya aku kira cinta itu saling. Saling mendengarkan, saling memahami, saling hadir. Tapi ternyata, kadang cinta tidak berjalan seperti yang kita bayangkan. Kadang kita terlalu fokus mencintai seseorang hingga lupa bertanya,

“Apakah aku dicintai dengan cara yang sama?”

Seorang pria yang berdiri disuatu tempat melihat alam

Aku Selalu Ada, Tapi Dia?

Hubungan ini tidak dimulai dengan luka. Justru, awalnya terasa hangat. Dia perhatian, dia mendengarkan, dia membuatku merasa penting.
Aku pikir, “Mungkin akhirnya aku menemukan seseorang yang melihatku bukan hanya sebagai pelarian.”

Tapi perlahan, segalanya mulai berubah.

Aku belajar, bahwa ada perbedaan besar antara ada secara fisik dan benar-benar hadir secara hati.
Dia mungkin ada di dekatku, tapi pikirannya entah ke mana. Dia mungkin duduk di sampingku, tapi hatinya tidak pernah singgah. Sementara aku, selalu menaruh seluruh perasaan, berharap dia melihat bahwa aku berjuang untuk tetap di sini.

Aku tetap ada saat dia sedih. Aku tetap bertahan saat dia marah.
Aku tetap mengerti bahkan saat dia menjauh. Tapi saat aku lelah, dia tidak pernah benar-benar hadir. Saat aku butuh ditenangkan, dia malah menghindar.

Tonton video ini di YouTube Shorts


Semua Tentang Dia

Entah sejak kapan hubungan ini berubah jadi monolog. Aku yang berbicara,
dia yang diam. Aku yang menunggu, dia yang sibuk dengan dunianya sendiri. Dan aku mulai menyadari sesuatu, semua ini…cuma tentang dia.

Tentang bagaimana aku harus mengerti dia.
Tentang bagaimana aku harus ada saat dia ingin.
Tentang bagaimana aku harus diam saat dia pergi.

Sementara aku?

Aku menahan tangis sendirian. Aku pura-pura kuat agar dia tidak merasa terganggu.
Aku menelan kecewa karena takut terlihat menyusahkan.

Aku Takut Kehilangan, Maka Aku Diam

Aku diam bukan karena tidak ingin bicara, tapi karena aku takut, kata-kataku akan membuatnya menjauh. Aku tahan luka karena aku takut dia merasa tidak dicintai. Padahal sebenarnya akulah yang tidak dicintai dengan benar.

Aku mulai menurunkan ekspektasi. Mulai merasa cukup dengan sisa waktu yang dia berikan. Mulai merasa cukup dengan setengah hati yang ia tunjukkan. Dan lama-lama aku mulai hilang dari diriku sendiri.

Sampai akhirnya aku sadar, aku terlalu sering menenangkan diriku dengan kalimat,
“Mungkin nanti dia akan berubah. Mungkin besok dia akan lebih mengerti. Mungkin suatu hari dia akan melihat aku yang sesungguhnya.”
Tapi “mungkin” itu hanya janji kosong yang aku buat untuk diriku sendiri, agar aku punya alasan bertahan.

Bukan Tak Ada Cinta, Tapi Tak Seimbang

Aku percaya, dia menyayangiku. Tapi cinta itu tidak cukup jika hanya satu yang terus memberi. Aku capek jadi penghibur dalam cerita yang katanya cinta tapi isinya cuma tentang dia.

Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Tapi siapa yang rela berjalan bersama, tanpa ada yang tertinggal jauh di belakang.

Dan saat hanya satu yang memegang tali, sementara yang lain menyeret, itu bukan cinta. Itu luka yang dibiarkan tumbuh pelan-pelan.

Cinta yang hanya berjalan satu arah sering kali membuat kita kehilangan diri sendiri. Kita rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kebahagiaan, demi seseorang yang tak pernah benar-benar menoleh. Kita terus memberi, padahal kita pun punya hati yang ingin diisi.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri:
Apakah aku masih mencintai dia, atau aku hanya takut sendirian?
Apakah aku bertahan karena cinta, atau hanya karena kenangan manis di awal yang terus aku ulang-ulang dalam pikiranku?

Cinta yang tidak seimbang itu melelahkan. Rasanya seperti berlari tanpa garis akhir, atau seperti berbicara pada ruang kosong. Lama-lama, bukan lagi tentang dia yang tidak hadir, tapi tentang aku yang kehilangan suaraku sendiri.

Momen Saat Aku Berhenti

Aku tidak meledak. Aku tidak marah-marah.
Aku cuma berhenti. Berhenti menunggu, berhenti memohon, berhenti berharap dia akan sadar. Bukan karena aku sudah tidak sayang. Tapi karena aku sadar, aku tidak bisa terus mencintai sambil kehilangan diriku sendiri. Aku juga berhak dicintai.

Aku akhirnya mengerti bahwa mencintai seseorang bukan berarti harus selalu bertahan. Kadang, melepaskan justru adalah bentuk cinta tertinggi dimana itu adalah cinta pada diri sendiri.

Melepaskan bukan berarti aku tidak pernah mencintai. Justru karena aku pernah mencintai dengan begitu tulus, aku harus berani berhenti sebelum diriku hancur. Karena jika cinta hanya membuat satu pihak terluka, apakah itu masih bisa disebut cinta?

Aku mulai menata ulang caraku memandang hubungan. Cinta bukan soal siapa yang paling lama bertahan, tapi siapa yang benar-benar hadir dan menjaga. Bukan tentang seberapa keras aku berusaha, tapi seberapa seimbang keduanya saling memberi.

Aku belajar bahwa cinta yang sehat itu bukan hanya soal ada seseorang di hidup kita, tapi tentang bagaimana kita tetap bisa jadi diri sendiri tanpa harus terus berkorban diam-diam.

Aku tidak salah karena ingin diperjuangkan juga. Aku tidak egois karena ingin dimengerti juga. Dan aku tidak lemah karena akhirnya memilih diam dan mundur.

Refleksi untuk Siapa Pun yang Membaca

Aku yakin, banyak orang pernah berada di posisi ini yaitu menjadi yang selalu ada, sementara pasangan kita hanya datang dan pergi sesuka hati. Rasanya menyakitkan, karena kita merasa cinta sudah cukup. Padahal, cinta saja tidak pernah cukup.

Hubungan butuh dua hati yang sama-sama memilih untuk hadir, sama-sama berjuang, dan sama-sama menjaga. Tanpa itu, cinta hanya jadi monolog panjang yang penuh luka.

Jadi, jika kamu yang membaca ini pernah merasa seperti aku, percayalah, kamu berhak dicintai dengan cara yang sama. Kamu berhak untuk tidak hanya menunggu, tapi juga ditemui. Kamu berhak merasa damai, bukan terus-menerus cemas.

Dan jika pada akhirnya kamu harus melepaskan, itu bukan berarti kamu kalah. Itu hanya berarti kamu cukup berani memilih dirimu sendiri.

Kalau Cinta Ini Cuma Tentang Dia…

Maka cukup. Aku sudah cukup kuat untuk bilang,Aku gak mau lagi jadi pemeran pendukung dalam kisah yang hanya berputar pada satu orang.”

Kalau cinta ini tidak membuatku merasa dicintai, kalau cinta ini hanya membuatku bertanya, kalau cinta ini membuatku menghilang dari diriku sendiri, maka aku akan pamit. Bukan sebagai orang yang kalah tapi sebagai seseorang yang akhirnya tahu caranya mencintai diri sendiri lebih dulu.

Untuk kamu yang pernah mencintai dalam diam, dan mulai sadar bahwa diam bukan lagi tempatmu berteduh, tapi luka yang kamu bungkus agar terlihat tegar.
Kamu berhak untuk kembali ke diri sendiri.

Mungkin kamu juga suka artikel ini : Refleksi cinta yang tidak seimbang

REFLEKSI CINTA YANG TIDAK SEIMBANG

Cinta yang Terasa Berat di Satu Sisi Awalnya aku pikir ini cuma fase. Aku pikir semua hubungan pasti ada pasang-surutnya. Kadang yang satu lebih banyak memberi, kadang yang lain lebih banyak menerima, dan aku percaya, suatu saat akan seimbang. Tapi semakin lama, aku mulai sadar bahwa ini bukan soal fase. Ini adalah soal pola. Pola … Baca Selengkapnya