RINDU YANG TAK AKAN PERNAH SAMPAI

▶️ Klik play untuk musik latar.

Ada rindu yang bisa diucapkan. Dan ada rindu yang hanya bisa dilampiaskan lewat pesan singkat, telepon di tengah malam, atau sekadar menyebut namanya dalam doa. Tapi ada juga rindu yang cuma disimpan diam-diam, karena orangnya sudah gak ada lagi di sini.

Hari-hari seperti ini, aku sering duduk sendiri, menatap langit yang abu-abu atau langit-langit kamar yang hampa. Ada momen-momen tertentu yang membuat hati terasa sesak tanpa sebab. Tapi sebenarnya aku tahu ini adalah rindu. Rindu yang gak punya tujuan. Rindu yang gak akan pernah sampai, karena orang yang aku rindukan sudah pergi.

Aku gak sempat mengucapkan apa-apa

Lucu ya, kadang kita menganggap orang yang akan selalu ada. Kita menunda banyak hal, dari ucapan terima kasih, kata maaf, atau bahkan “aku sayang kamu”. Kita berpikir akan selalu ada waktu esok untuk bicara, untuk menjelaskan, untuk memperbaiki. Tapi ternyata, waktu gak menunggu kita siap.

Aku kehilangan dia, bukan karena salah satu dari kami menyerah, tapi karena semesta memanggilnya lebih dulu. Kepergian yang gak bisa dinegosiasikan, gak bisa dicegah, dan gak bisa dipeluk untuk terakhir kalinya.

Yang tersisa hanyalah diam.

Dan sejak saat itu, aku hidup dengan kerinduan yang gak bisa kuantar ke mana pun.

Rindu yang gak bernyawa

Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan seseorang. Tapi kehilangan kesempatan, kesempatan untuk memeluk, mendengar tawa, menatap mata, atau hanya duduk berdampingan tanpa bicara. Ada hari-hari di mana aku ingin sekali menceritakan sesuatu padanya. Tentang hidupku sekarang, tentang hal-hal lucu yang terjadi hari ini, tentang lagu yang baru aku temukan dan tahu dia pasti akan suka.

Tapi gak ada lagi balasan. Gak ada lagi “kita”.

Rindu ini terasa seperti berjalan menuju pintu yang gak akan pernah dibuka lagi.

📺 Tonton video pendek kami di YouTube:

“Rindu Ini Gak Pernah Sampai”

Tentang malam-malam yang sunyi

Aku pernah berpikir rindu akan pudar dengan berjalannya waktu. Tapi ternyata, waktu gak selalu menyembuhkan. Ia hanya membuat kita lebih pandai menyembunyikan luka. Dan saat malam tiba, ketika semua kesibukan berhenti, sunyi akan mengetuk hati. Lalu rindu datang seperti tamu lama yang tahu di mana tempatnya duduk.

Kadang aku menangis. Kadang hanya diam. Kadang tertawa kecil mengenang memori, lalu menangis diam-diam setelahnya. Gak ada formula pasti untuk mengobati kehilangan. Yang ada hanyalah cara kita bertahan dengan rindu yang gak lagi bisa dipeluk.

Berdamai tanpa menghapus

Ada masa di mana aku marah pada semesta, pada hidup, bahkan pada diriku sendiri. Kenapa gak lebih cepat untuk bicara? Kenapa gak lebih sering menunjukkan rasa? Kenapa harus pergi secepat itu?

Tapi aku sadar, semua pertanyaan itu gak akan membawa dia kembali. Yang bisa kulakukan hanyalah berdamai. Bukan dengan melupakan, tapi dengan menerima bahwa ada cinta yang tetap hidup dalam kenangan.

Aku belajar bahwa berdamai bukan berarti gak lagi merindukan. Tapi berdamai adalah saat kamu mampu berjalan, meski dengan rindu yang tetap kamu bawa.

Hari ini Aku menulis untukmu

Hari ini, aku memilih untuk menulis. Bukan karena aku sudah sepenuhnya kuat, tapi karena aku ingin suaraku terdengar, meski hanya oleh angin.

Kamu mungkin gak bisa membaca ini. Tapi jika rindu bisa menembus dimensi, maka biarlah kata-kata ini terbang ke sana, ke tempat di mana kamu sekarang berada.

Aku masih merindukanmu. Dan mungkin akan terus begitu.

Tapi aku juga mulai bisa tertawa lagi. Mulai bisa bercerita tanpa air mata. Mulai bisa melihat dunia dan berkata: “Aku akan baik-baik saja.”

Rindu yang gak pernah salah

Rindu itu gak salah. Meskipun ia menyakitkan, rindu adalah tanda bahwa cinta pernah hidup. Ia adalah bukti bahwa seseorang pernah begitu berarti. Jadi jika kamu juga sedang merindukan seseorang yang sudah pergi, entah ke tempat jauh, entah ke dunia yang lain, tapi ketahuilah, kamu gak sendiri.

Rasa itu valid. Tangismu valid. Dan waktumu untuk sembuh, gak perlu terburu-buru.

Untukmu yang masih ada

Tulisan ini kutujukan untuk dia yang telah pergi dan juga untuk kamu yang sedang membaca ini dan mungkin memeluk rindu yang sama.

Aku tahu rasanya ingin berbicara tapi gak bisa. Ingin memeluk tapi hanya bisa membayangkan. Tapi rindu seperti ini gak sia-sia. Ia adalah bagian dari kita yang sedang belajar kehilangan dengan cara paling manusiawi.

Jadi gak apa jika malam ini kamu menangis. Gak apa jika masih berharap bisa bermimpi bertemu dengannya. Karena sejauh-jauhnya kepergian, cinta tetap tinggal di tempat yang paling dalam yaitu hati kita.

Dan mungkin, dari kejauhan yang gak terlihat, mereka juga sedang merindukan kita.

“Karena rindu yang gak sampai, tetaplah rindu yang indah kalau kita belajar mengubahnya jadi doa dan kenangan yang membawa damai.”

Pernah merasakan rindu yang tak bisa kamu sampaikan? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, biar bisa saling menguatkan.

Mungkin kamu juga suka dengan artikel : Bangkit dari kehilangan orang yang dicintai.Bangkit dari kehilangan orang yang dicintai.