Secangkir Kopi Dan Rasa Syukur

Secangkir kopi hitam diatas meja kayu dan kopi yang masih panas

Ada yang bilang, kopi hanyalah minuman pahit. Tapi bagi sebagian orang, kopi adalah jeda. Ia bisa hadir di pagi hari yang sibuk, di sore yang melelahkan, bahkan di malam yang sunyi. Dan di setiap tegukannya, ada ruang kecil untuk merenung.

Hari itu, aku duduk sendirian dengan secangkir kopi di meja kayu sederhana. Bukan di kafe mahal, bukan pula dengan pemandangan indah, hanya ruang kecil di rumahku. Namun entah mengapa, aroma kopi itu menenangkan. Asap tipis yang menari dari cangkir seakan membawa pesan “hiduplah pelan-pelan”.

Aku menatap minuman hitam itu. Pahit, hangat, sederhana. Sama seperti hidup. Tidak selalu manis, tidak selalu mudah, tapi selalu memberi alasan untuk disyukuri. Dari secangkir kopi, aku belajar bahwa pahit pun bisa dinikmati, asal kita mau menerima.

Kadang aku teringat, betapa seringnya kita lupa mensyukuri hal-hal kecil. Kita terlalu sibuk mengejar yang besar, dari pekerjaan yang mapan, penghasilan yang tinggi, pencapaian yang gemilang hingga melewatkan nikmat sederhana yang ada di depan mata. Padahal, mungkin kebahagiaan itu ada di momen sekecil ini yaitu duduk tenang, menarik napas dalam, lalu menyeruput kopi perlahan.

Secangkir kopi juga mengingatkanku tentang kesabaran. Tidak ada kopi yang enak jika diseduh terburu-buru. Air harus dididihkan, bubuk harus dituang dengan takaran yang pas, lalu menunggu hingga aroma keluar sempurna. Sama seperti hidup bahwa semua butuh proses. Kadang kita ingin segala hal instan, cepat jadi, cepat berhasil. Padahal, hasil terbaik justru datang dari mereka yang sabar menunggu, menata langkah sedikit demi sedikit.

Dan yang paling berharga dari kopi adalah kesederhanaannya. Ia tidak pernah menuntut banyak. Cukup air panas, cukup wadah, cukup waktu. Tidak lebih. Dari situ aku sadar, mungkin kita pun perlu hidup dengan lebih sederhana, tidak terlalu banyak ingin, tidak terlalu banyak mengeluh. Karena kebahagiaan sejati bukan soal berapa banyak yang kita punya, tapi seberapa mampu kita mensyukuri yang ada.

Malam itu, aku meneguk sisa kopi yang mulai dingin. Rasa pahitnya lebih kuat, tapi justru di situlah letak pelajarannya. Tidak semua hal dalam hidup harus selalu hangat dan manis. Ada kalanya kita diberi rasa pahit agar lebih menghargai manisnya. Ada kalanya kita diberi gelap agar lebih mencintai terang.

Kopi sederhana di cangkirku mungkin tidak mengubah dunia, tapi ia mengubah caraku memandang hari. Aku belajar bahwa rasa syukur tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan megah. Kadang ia hadir lewat hal-hal kecil, sesederhana aroma kopi yang menenangkan di sela lelah yang panjang.

Dan di detik itu, aku sadar bahwa hidup akan selalu penuh naik turun, manis dan pahit akan bergantian datang. Tapi selama aku masih bisa merasakan secangkir kopi, masih bisa duduk diam sejenak, masih bisa tersenyum walau sederhana dan aku tahu, aku tidak pernah benar-benar kekurangan.

Artikel lainnya yang  mungkin kamu suka : 

Quotes motivasi, Slow Loving di era modern

© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.

Satu pemikiran pada “Secangkir Kopi Dan Rasa Syukur”

Tinggalkan komentar