Perjalanan Karierku : Dari Kantoran ke Dunia Online

Pendahuluan: Hidup Itu Penuh Jalan Berliku

Setiap orang punya perjalanan hidupnya sendiri. Ada yang sejak awal sudah tahu apa passion-nya, lalu menekuninya dengan mantap sampai sukses. Tapi banyak juga yang seperti aku yang berjalan di jalur yang sebenarnya tidak terlalu disukai, lalu mencari-cari arah sampai akhirnya menemukan sesuatu yang membuat hati benar-benar merasa “ini jalanku”.

Cerita ini tentang perjalananku. Dari seorang lulusan D3 Akuntansi yang awalnya tidak tahu harus melangkah ke mana, bekerja di bidang yang terasa berat, hingga akhirnya mencoba dunia usaha online. Bukan perjalanan yang mulus, tapi penuh pembelajaran. Dan dari sinilah aku belajar bahwa keberanian melangkah itu jauh lebih penting daripada menunggu sempurna.

Seorang wanita yang sedang duduk dan memangku anaknya sambil bekerja dengan laptop di meja

Awal Perjalanan: Memilih Jurusan Bukan Karena Suka

Aku masih ingat waktu SMA dulu. Aku suka menggambar, suka pelajaran bahasa asing, dan lebih tertarik dengan hal-hal kreatif. Tapi ketika tiba saatnya memilih jurusan kuliah, aku bingung. Aku tidak benar-benar tahu di bidang apa aku unggul.

Akhirnya aku berkonsultasi sebentar dengan pamanku. Beliau menyarankan untuk masuk jurusan Akuntansi, karena kebetulan dia juga menekuni bidang itu. Katanya, bidang ini “aman”, peluang kerjanya terbuka luas, dan stabil.

Tanpa terlalu banyak pertimbangan, aku mengikuti saran itu. Aku masuk D3 Akuntansi. Jujur, selama kuliah aku tidak merasa terhubung. Nilai pun biasa saja. Tidak ada kebanggaan atau semangat berlebih. Tapi aku tetap jalani, karena kupikir mungkin ini memang jalanku.

Dunia Kantoran: Menjalani Tanpa Hati

Setelah lulus, aku pun melamar kerja. Dengan bekal ijazah, aku masuk ke perusahaan dan bekerja di bidang finance serta akuntansi.

Di sinilah aku mulai benar-benar merasakan betapa beratnya bekerja di bidang yang tidak aku cintai. Setiap pagi rasanya seperti beban. Bangun tidur, bersiap, berangkat kerja, semua dilakukan dengan setengah hati. Tidak ada motivasi, tidak ada semangat.

Hari demi hari, aku merasa bekerja hanya karena kewajiban, bukan karena suka. Tapi aku tetap bertahan beberapa tahun. Aku bilang pada diri sendiri, “mungkin memang beginilah hidup orang dewasa yang bekerja meski tidak suka.”

Meski begitu, ada satu hal yang membekas. Rekan-rekan kerjaku yang lebih senior sering bercerita tentang cita-cita mereka: ingin punya usaha sendiri, ingin menjadi bos untuk diri mereka sendiri. Obrolan itu terus terulang di ruang kerja kami. Saat itu aku hanya bisa mendengar dengan kagum. Dalam hati aku merasa, “wah menarik ya… tapi aku belum berani berpikir sejauh itu.”

Titik Balik: Kesempatan dari Kakak

Beberapa tahun kemudian, kakakku menawarkan untuk bekerja bersamanya. Aku pikir ini kesempatan bagus. Setidaknya aku bisa mencoba hal baru yang berbeda dari akuntansi. Aku pun menerima tawarannya.

Ternyata benar, aku lebih menikmati pekerjaan ini. Aku merasa lebih hidup, lebih bersemangat dibanding saat bekerja di kantor dulu. Aku bertahan cukup lama, dan ini jadi pengalaman berharga yang membuatku sadar: pekerjaan yang sesuai hati memang terasa jauh lebih ringan dijalani.

Keputusan Besar: Berhenti Kerja Karena Anak

Lalu datang fase baru dalam hidupku, aku hamil. Saat itu aku harus membuat keputusan penting. Aku memilih berhenti bekerja supaya bisa fokus mengurus anak.

Keputusan ini tentu tidak mudah. Aku sempat bingung, “setelah berhenti kerja, aku bisa apa? Harus mulai dari mana?” Tapi aku percaya, setiap fase hidup akan membuka jalan baru.

Sejak hamil, aku sering belanja perlengkapan bayi secara online. Dari situlah muncul ide pertama: “Kalau aku punya toko online sendiri, kayaknya seru juga.”

Melangkah ke Dunia Online: Usaha Pertama

Aku pun mulai belajar. Dari mencari aplikasi, membuat website sederhana, hingga menyiapkan stok barang untuk toko online. Semua aku lakukan sendiri, tanpa pengalaman.

Awalnya terasa sangat berat. Persaingan di online shop sangat ketat. Aku harus melayani banyak pertanyaan customer, hampir seharian. Rencana punya jam operasional tidak berjalan. Stok barang semakin banyak dan beraneka ragam. Aku merasa lelah, bahkan sempat berpikir, “apa aku sanggup jalanin ini sendirian?”

Tapi aku tidak menyerah. Aku berpikir, mungkin aku harus fokus pada satu produk. Karena awalnya aku menjual perlengkapan bayi, aku melihat pakaian bayi paling banyak peminatnya. Dari situ aku memutuskan untuk spesialisasi di piyama anak.

Fokus Membawa Hasil

Aku mencari supplier khusus, membuat logo baru, dan memperbarui website agar lebih profesional. Aku juga mulai menggunakan sistem order yang lebih rapi.

Perlahan tapi pasti, hasilnya terlihat. Orderan semakin banyak. Bahkan ada reseller dari luar kota yang mengambil barang dariku untuk dijual kembali. Rasanya luar biasa dan akhirnya aku merasakan manisnya kerja keras.

Tapi di balik itu, muncul tantangan baru. Packing, pengiriman, stok, semua aku kerjakan sendiri sambil tetap mengurus anak. Aku kewalahan. Sampai akhirnya aku harus menonaktifkan website sementara, karena tidak sanggup membagi waktu.

Refleksi: Belajar Dari Proses

Dari semua itu, aku belajar satu hal penting: lebih baik memilih bidang yang kita sukai. Karena kalau kita tidak suka, pekerjaan sekecil apa pun bisa jadi beban. Tapi kalau kita suka, meski berat, kita tetap bersemangat menjalaninya.

Aku juga belajar bahwa langkah awal memang selalu sulit. Tidak ada jalan instan. Tapi kalau kita tekun, hasilnya akan datang.

Kembali Menemukan Arah: Affiliate Marketing

Sekarang, aku masih berjualan online, tapi dengan cara berbeda. Aku tidak lagi menyimpan stok sendiri. Aku lebih fokus ke affiliate marketing di Shopee dan TikTok.

Kenapa aku kembali ke bidang ini? Karena aku merasa inilah bidang yang membuatku merasa berhasil. Aku menikmati prosesnya. Dan aku percaya, kalau aku tekuni lagi, hasilnya akan lebih baik.

Affiliate marketing memberiku fleksibilitas. Aku bisa tetap mengurus anak, tapi tetap produktif menghasilkan. Ini adalah jalur yang saat ini paling cocok untukku.

Pelajaran Berharga dari Perjalananku

Kalau aku rangkum, ada beberapa hal yang kupelajari dari perjalanan ini:
1. Jangan takut mencoba.
Awalnya aku ragu, tapi kalau tidak mencoba, aku tidak akan pernah tahu.
2. Pilih sesuatu yang kita suka.
Pekerjaan yang kita cintai akan terasa lebih ringan, meski penuh tantangan.
3. Berani melangkah, meski kecil.
Langkah pertama memang sulit, tapi itu satu-satunya cara untuk maju.
4. Tidak ada jalan instan.
Semua butuh waktu, proses, dan kesabaran.
5. Setiap orang punya jalannya sendiri.
Jangan bandingkan perjalanan kita dengan orang lain.

Penutup: Kamu Pasti Bisa

Kini, aku masih terus melangkah. Aku percaya, setiap orang bisa menemukan jalannya masing-masing. Bidangnya mungkin berbeda, tapi pasti ada sesuatu yang membuatmu merasa, “ini jalanku.”

Banyak orang sukses juga mengalami jalan berliku sebelum menemukan jalannya. Misalnya, William Tanuwijaya yang dulu bekerja di warnet sebelum akhirnya mendirikan Tokopedia, atau Arianna Huffington yang berkali-kali ditolak penerbit sebelum melahirkan Huffington Post. Perjalanan mereka membuktikan bahwa kebingungan dan jatuh bangun adalah bagian dari proses menuju sesuatu yang lebih besar.

Kalau aku bisa melewati semua kebingungan, keraguan, jatuh bangun, hingga menemukan arah yang lebih cocok, aku yakin kamu juga bisa.

Terus semangat berkarya. Jangan takut melangkah. Karena hasil hanya datang bagi mereka yang berani mencoba.

Baca juga : Kecilkan suara takut dan besarkan suara harapan

© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.

Tinggalkan komentar