Apakah Blog Masih Relevan Di Era Media Sosial?

Kenangan Blog Lama: Era Blogwalking dan Buku Tamu

Sepasang tangan yang sedang mengetik di mesin ketik yang sudah lama

Setelah lebih dari sepuluh tahun lalu, aku sudah mengenal dunia blog. Ketika itu, blog masih jadi tren besar. Hampir semua orang punya blog pribadi, entah Blogspot atau Multiply. Aku pun ikut menulis, dan dari sana aku merasakan betapa serunya dunia blogging waktu itu.

Nah, ada istilah blogwalking yang mungkin masih kamu ingat. Blogwalking itu semacam “main” ke blog tetangga, lalu kita meninggalkan komentar, isi buku tamu, bahkan saling tukar link. Rasanya hangat sekali, seperti punya komunitas kecil yang saling dukung. Setiap kali ada komentar masuk, aku merasa pembaca benar-benar membaca dan menghargai tulisanku. Itu yang membuat blogging terasa hidup.

Kini, ketika aku kembali lagi, aku menyadari suasananya sudah berbeda. Multiply sudah lama tutup, Blogspot masih ada tapi tak sepopuler dulu, dan sekarang aku memilih pindah ke WordPress. Sebenarnya tidak ada alasan khusus pindah. Tapi, Aku hanya merasa WordPress memberi lebih banyak fleksibilitas, baik untuk tampilan maupun fitur menulis.

Pemicu Bangkit Lagi: Dari YouTube Channel ke Blog

Semuanya bermula dari hal sederhana. Seorang rekan komunitas gereja membuat channel YouTube. Hal itu membuatku teringat pada channel lamaku yang sudah lama mati suri. Dari situ aku mulai berpikir: “kenapa aku tidak mencoba lagi?”

Bedanya, kali ini aku ingin lebih konsisten. Dulu aku terlalu cepat menyerah. Waktu itu, Aku sempat membuat konten makanan, tapi karena follower masih sedikit dan aku kurang sabar, akhirnya berhenti. Kali ini, aku memilih fokus pada hal yang lebih dekat dengan diriku: konten motivasi.

Awalnya aku menyalurkan ide lewat YouTube Shorts. Tapi aku merasa ada hal-hal yang terlalu singkat kalau aku hanya menuangkannya dalam video pendek. Aku butuh ruang untuk menulis lebih panjang, untuk bercerita, untuk merenung. Dari situlah aku teringat blog lamaku yang sudah bertahun-tahun tak tersentuh. Dan aku pun memutuskan untuk kembali menulis blog.

Kenangan Tim Redaksi Gereja: Sekolah Menulisku

Sebenarnya dunia tulis-menulis bukan hal asing bagiku. Aku pernah menjadi bagian dari tim redaksi pada komunitas gereja. Tugasnya beragam: menulis artikel utama, artikel pendukung, mengedit tulisan orang lain, bahkan mengatur desain layout majalah internal.

Yang menarik, setiap minggu kami harus kejar tayang. Itu artinya, ide harus siap, tulisan harus selesai, dan semuanya harus terbit tepat waktu. Anehnya, aku merasa nyaman dengan ritme itu. Mungkin karena aku memang suka bidang itu, atau mungkin karena suasananya penuh kebersamaan. Pengalaman itu meninggalkan bekas, dan tanpa kusadari, itu melatihku untuk lebih konsisten.

Ketika aku kembali ke dunia blog sekarang, kenangan itu kembali muncul. Rasanya seperti mengulang bagian yang pernah hilang dari hidupku.

Filosofi Baru Menulis: Dari Tuntutan ke Jurnal

Tapi, aku tidak ingin mengulangi kesalahan lama. Dulu, aku menulis dengan mindset “harus setiap hari ada konten”. Lama-lama itu terasa berat, apalagi kalau ide tidak ada. Hasilnya, tulisan pun jadi kering dan terpaksa.

Sekarang aku memilih cara berbeda. Aku memperlakukan blogku seperti jurnal pribadi. Kalau ada ide, aku akan menulis. Kalau tidak ada, aku tidak memaksakan diri. Aku percaya, jika menulis dengan paksaan isinya akan terasa hambar.

Kadang aku menemukan ide saat pagi hari, saat merenung atau membaca sekitar. Kadang dari pengalaman pribadi, atau dari hal-hal kecil yang kulihat. Justru ide-ide spontan itu yang sering jadi konten paling jujur.

Tentu ada rasa insecure. Aku sempat berpikir, bagaimana kalau tidak ada yang membaca? Tapi sekarang aku sadar, tujuan utamaku bukan angka. Kalau ada satu orang saja yang merasa terberkati atau tercerahkan oleh tulisanku, itu sudah cukup.

Blog di Era Media Sosial

Blog sebagai Arsip Digital

Media sosial bergerak cepat. Hari ini postingan bisa viral, besok sudah tenggelam. Algoritma mengatur apa yang orang lihat, dan kadang konten yang kita buat menghilang begitu saja. Berbeda dengan blog. Tulisan yang aku buat hari ini masih bisa dibaca tahun depan, bahkan lima tahun lagi. Blog adalah arsip digital yang tahan lama.

Blog sebagai Rumah Digital dan Personal Branding

Blog juga menjadi rumah digital. Kalau media sosial ibarat tempat nongkrong, blog adalah rumah tempat orang benar-benar mengenal kita. Di blog, aku bisa mengatur tampilan, memilih tema, dan menentukan isi. Itu yang membuat blog bisa menjadi wajah personal branding.

Blog dan Media Sosial Saling Melengkapi

Bagi aku, blog dan media sosial bukan saingan, tapi pasangan. Media sosial bagus untuk promosi cepat: misalnya bikin YouTube Shorts atau Instagram Reels. Tapi blog memberi ruang untuk penjelasan mendalam. Kombinasinya ideal, media sosial sebagai pintu, blog sebagai ruang tamu yang nyaman.

Apa Kata Pakar Tentang Blog 2025

Menurut Neil Patel, pakar digital marketing:

“Blogging remains highly relevant in 2025 despite the emergence of newer content formats.”

Dalam risetnya, Patel menyebut bahwa artikel blog menyumbang hampir 29% dari total trafik organik di antara 15.000 situs yang diteliti.

Sementara itu, Forbes menulis:

“In 2025, content is still king. But only when you create it with depth, originality and a clear strategy.”

Dari data terbaru:
Wix mencatat 80% pengguna internet masih membaca blog secara rutin.
99Firms menyebut 70% konsumen lebih suka belajar tentang brand lewat blog daripada iklan.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa blog tidak hanya hidup, tapi juga menjadi pilar penting dalam strategi digital 2025.

Manfaat Menulis Blog untuk Diri Sendiri

Buatku pribadi, menulis blog punya manfaat yang lebih dalam:
Melatih konsistensi. Menulis secara rutin, meski tidak setiap hari, membangun kebiasaan positif.
Self-healing. Menulis jadi cara untuk memproses pengalaman, mengurai pikiran, bahkan menemukan pencerahan baru.
Mengasah keterampilan komunikasi dan riset. Blog melatihku untuk menyusun ide secara runtut, menulis dengan jelas, dan kadang menggali data tambahan.

Refleksi Penutup: Ajakan untuk Kembali Menulis

Aku belajar bahwa menulis blog bukan soal angka, traffic, atau uang. Menulis blog adalah perjalanan pribadi. Ketika aku menulis, aku bukan hanya berbagi untuk orang lain, tapi aku juga menyembuhkan diriku sendiri.

Kalau kamu juga pernah berhenti menulis, mungkin ini saatnya untuk mencoba lagi. Tidak harus sempurna dan setiap hari. Cukup konsisten dan jujur pada diri sendiri.

Siapa tahu, tulisan kecilmu bisa menjadi berkat besar bagi orang lain.

Baca juga : Perjalanan karierku : Dari kantoran ke dunia online

© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.