Ada masa-masa dalam hidup di mana aku memilih untuk diam.
Bukan karena aku gak tahu harus berkata apa.
Bukan karena aku lemah dan bukan karena aku kalah. Tapi karena aku sedang berproses, sedang menyembuhkan,sedang menyusun kekuatan yang gak terlihat di permukaan.
Dulu, aku sering merasa perlu membuktikan diri. Setiap kali diremehkan, aku ingin menjawab.
Setiap kali dicibir, aku ingin melawan. Setiap kali orang menyepelekan usaha atau mimpi kecilku, aku ingin menunjuk ke dalam hatiku dan berkata, “Lihat, aku juga punya nilai!”
Tapi lama kelamaan aku sadar kalau gak semua suara harus dijawab. Gak semua keraguan harus dibungkam dengan teriakan. Dan gak semua pengakuan harus aku kejar sampai letih. Karena aku gak hidup dari pengakuan. Tapi aku hidup dari niat. Aku hidup dari langkah kecil yang aku ambil setiap hari meski tanpa tepuk tangan, meski tanpa sorot mata siapa pun.
Diremehkan, Tapi Tidak Dihancurkan
Rasanya memang menyakitkan saat usaha kita dianggap remeh. Ketika kita mencoba memulai sesuatu, entah itu bisnis kecil, menulis blog, belajar hal baru, dan orang-orang justru menanggapinya dengan sinis.
“Ah, kamu yakin bisa?”
“Buat apa sih?”
“Yang nonton siapa?”
Komentar-komentar itu awalnya masuk ke hati dan menggores pelan. Membuatku mempertanyakan diri sendiri. Tapi kemudian aku bertanya dalam hati : Apa aku akan membiarkan komentar mereka menentukan hidupku? Apa aku akan berhenti hanya karena orang lain gak percaya?
Tidak!
Karena hidupku bukan pertunjukan. Hidupku bukan kontes validasi. Dan aku gak perlu berdiri di atas panggung hanya untuk dinilai.
🎧 Tonton video reflektif kami di YouTube:
“Aku bukan kosong, aku bukan diam”
Perjalanan yang Tak Terlihat
Kadang aku memang gak banyak bicara. Gak banyak pamer pencapaian. Dan gak banyak cerita tentang apa yang sedang aku usahakan. Bukan karena gak ada yang aku perjuangkan. Tapi karena aku percaya, perjalanan itu sakral. Dan sebagian kekuatan tumbuh dalam kesunyian.
Aku tahu rasanya ditertawakan saat mencoba.
Aku tahu rasanya gak dianggap saat berusaha.
Aku tahu rasanya ketika kamu sudah sampai batas lelahmu, tapi orang lain tetap gak melihat apa pun yang kamu lakukan sebagai sesuatu yang berarti.
Tapi aku juga tahu bahwa perjalanan ini adalah milikku. Dan aku punya hak penuh untuk tetap berjalan, meski sendirian. Meski tanpa sorak-sorai dan hanya ditemani suara hatiku sendiri yang berkata,
Lanjutkan, jangan berhenti!
Aku Adalah Proses, Bukan Hasil Instan
Sering kali dunia hanya melihat hasil.
Berapa followersmu?
Berapa uang yang kamu hasilkan?
Sudah sukses jadi apa?
Tapi aku percaya pada proses.
Aku percaya pada hal-hal yang tumbuh perlahan.
Aku percaya pada keberhasilan kecil yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sabar.
Mereka mungkin melihatku dan berkata, “Belum jadi apa-apa.”
Tapi aku tahu…
Aku sedang menuju ke arah yang lebih kuat, lebih tangguh dan lebih jujur.
Karena aku gak ingin menjadi “hebat” hanya untuk dilihat.
Aku ingin menjadi utuh meskipun perlahan.
Aku ingin menjadi tulus meskipun sederhana.
Dan aku ingin berdiri di akhir perjalanan nanti.
Bukan sebagai seseorang yang dipuja, tapi seseorang yang gak pernah menyerah.
Diamku Bukan Kekalahan
Diamku bukan kekalahan. Diamku adalah ruang untuk merasakan, untuk belajar, untuk menyusun ulang apa yang penting. Aku gak menjawab mereka yang meremehkan. Itu bukan karena aku takut, tapi karena aku memilih untuk gak membuang energi untuk hal yang gak membangun.
Aku lebih memilih menulis, menyusun kata, membangun ruangku sendiri. Dan menjadi versi terbaikku sendiri, walau gak ada yang melihat.
Untuk Kamu yang Sedang Diremehkan…
Kalau kamu juga sedang merasa seperti ini, aku ingin kamu tahu bahwa kamu gak sendiri.
Dan nilaimu gak ditentukan oleh komentar orang.
Bukan jumlah like.
Bukan validasi dari luar.
Nilaimu ada di cara kamu bangkit tiap pagi.
Di cara kamu bertahan walau letih.
Di cara kamu terus berjalan walau sering dipertanyakan.
Mereka mungkin gak percaya padamu.
Tapi kamu boleh percaya pada dirimu sendiri.
Dan itu cukup!
Jadi …
“Aku bukan kosong. Aku bukan diam.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tapi bagiku, itu mantra. Sebuah penegasan bahwa :
Mungkin kamu suka dengan artikel lain : terima kasih,aku masih ada
Meski aku gak keras tapi aku tetap kuat. Meski aku gak tampil, aku tetap ada.
Meski aku gak sempurna, aku tetap berjalan.Dan itu… sudah cukup.
© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.
