Refleksi Tentang KLIK dalam Pertemanan

Pertemanan Banyak, Tapi Tidak Selalu Sefrekuensi

Punya banyak teman memang menyenangkan. Karena jaringan lebih luas, circle pun berbeda, dan selalu ada yang bisa diajak berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tidak semua teman itu benar-benar sefrekuensi yang artinya tidak semua adalah yang “klik”, tidak semua punya energi dan pola pikir yang sama. Istilah “sefrekuensi” menandakan adanya keselarasan vibes, pemikiran, dan kenyamanan tanpa perlu usaha ekstra.

Apa Itu “Teman Sefrekuensi”?

Menurut Liputan6 (November 2024), teman sefrekuensi adalah orang yang memiliki kecocokan tinggi dengan kita dalam banyak aspek, sehingga komunikasi terasa mudah, nyaman, dan saling memahami bahkan tanpa banyak penjelasan . Kalau dari Kumparan (November 2023), teman sefrekuensi itu seperti keluarga yaitu saling mendukung, nyaman jadi diri sendiri, dan punya kesamaan dalam pola pikir hingga tujuan hidup .

Ciri-ciri teman sefrekuensi:

  1. Komunikasi mengalir, nyambung tanpa canggung
  2. Nyaman jadi diri sendiri tanpa perlu pakai topeng
  3. Saling memahami tanpa banyak dijelaskan
  4. Punya kesamaan minat atau nilai dasar
  5. Saling mendukung nyata dalam suka dan duka

Cerpen: Sekelompok Pemuda dan Pertemanan Sefrekuensi

Sekelompok orang sedang mendaki gunung

Pada suatu komunitas pendaki pria, mereka rutin mendaki gunung setiap 1–2 bulan. Semuanya pekerja fleksibel, jadi mereka bisa menyisihkan waktu untuk hobi. Suatu hari, muncul anggota baru, namanya Rian. Ia belum lama bergabung dan hanya ikut jika rute pendakian terasa ringan. Tujuannya dia sederhana saja, hanya untuk olahraga dan menikmati suasana alam.

Pendakian ke Gunung di Bogor
Saat persiapan, Rian spontan bilang di grup WhatsApp: “Aku yang bawa mobil, tanggung transport, semua urusan transport aku yang support.” Biasanya, mereka patungan sesuai siapa membawa mobil atau urusan lain. Pendakian itu berakhir dengan sukses, obyeknya seru, obrolan lancar, suasana santai. Rian merasa, “Ini kelompok yang asik, nyaman tanpa beban.”

Pendakian berikutnya adalah ke Bandung, dan Ketika Hilang Frekuensi
Bulan berikutnya, teman-teman grup sedang mendiskusikan acara pendakian lagi tapi tujuannya ke Bandung. Daftar peserta mulai mengisi. Rian berpikir, “Ini teman yang paling sefrekuensi, paling menyenangkan.” Tapi ketika ditanya siapa yang bawa mobil, tiba-tiba senyap. Nggak ada yang jawab.

Seorang teman dari komunitas gowes yang juga kenal dengan kelompok pendaki ini bilang sinis, “Aku gak pernah mau ikut kelompok pendaki itu karena susah banget ditanya siapa bawa mobil.” Rian merasakan persis itu : bukan soal nggak mau bawa mobil, tapi jika acara bareng dan rutin, mestinya dalam grup semua bisa bergantian. Semua kan punya mobil, dan soal bensin atau uang tol dapat dibicarakan supaya tidak menjadi beban.

Refleksi: Teman Sefrekuensi dan Ketidaksinkronan dalam Aksi

Kepada siapa kita sefrekuensi?
Rian merasa cocok dengan grup ini dalam vibe : spontan, tetap santai, obrolan ringan tapi nyaman. Itu adalah ciri pertemanan sefrekuensi yang mana ada chemistry dan mutual energy yang menyenangkan.

Mengapa Bisa Tidak Sefrekuensi?
Sementara itu, di momen yang lebih praktis, misalnya saat pembagian tugas membawa mobil, kelompok tersebut justru tidak berjalan sefrekuensi. Ini menunjukkan bahwa kecocokan vibe belum tentu menjamin keselarasan dalam aspek praktikal (komitmen, komunikasi, tanggung jawab).

Jadi solusinya bagaimana ?

  1. Buka komunikasi secara jujur dan asertif, seperti Rian : ajakin diskusi “gantikankah membawa mobil?” dan terbuka soal kontribusi nyata dalam biaya.
  2. Tetapkan pada sistem. Misalnya, jadikan giliran bawa mobil sebagai rutin rotasi yang jelas.
  3. Perhatikan dua level frekuensi:
    • Emotional/social (nyambung dalam vibes)
    • Praktis/aksi (bagi tugas, komitmen bersama)

Seorang teman bisa sefrekuensi di level pertama, tapi perlu kerja ekstra untuk sinkron di level kedua dan berikutnya.

Menghadapi Teman yang Tidak Sefrekuensi untuk Kebaikan Kita

Menurut Liputan6, saat menghadapi teman tidak sefrekuensi, kita bisa:

  1. Menerima bahwa perbedaan itu wajar
  2. Fokus pada persamaan
  3. Komunikasi asertif
  4. Tetapkan batasan
  5. Jadikan sebagai kesempatan pengembangan diri

Dalam kasus Rian:

  1. Dia memahami bahwa perbedaan pola tanggung jawab bisa terjadi
  2. Dia fokus menyelamatkan yang masih sinkron vibes-nya, yaitu enjoy bareng di alam
  3. Dia komunikasikan dengan jujur ajakan bergantian
  4. Dia menetapkan batasan: kalau tidak ketemu solusi, dia mesti pikir ulang ikut lagi demi kesehatan mental dan efisiensi.

Penutup

Pertemanan sefrekuensi itu bukan hanya darimana kita merasa nyaman dan ‘klik’ itu penting. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menyelaraskan untuk tindakan nyata, komitmen, dan tanggung jawab bersama. Kalau hanya vibes tanpa sinkron dalam aksi, bisa jadi sumber frustrasi.

Cerpen tentang Rian dan teman pendakinya jadi refleksi nyata:
• Ada teman yang secara emosional sefrekuensi untuk tertawa bersama tanpa beban, nyaman di alam.
• Ada juga tantangan ketika komponen praktis yang tak sinkron yang mana siapa yang bertanggung jawab bawa mobil.
• Solusinya adalah : komunikasi secara terbuka, putaran tanggung jawab, dan refleksi jaga batas agar hubungan tetap sehat, sefrekuensi, dan produktif.

Ringkasan Intisari:
• Teman sefrekuensi = orang dengan komunikasi mengalir, nyaman jadi diri sendiri.
• Tidak sefrekuensi bisa terjadi di level komitmen praktis dan solusinya adalah komunikasi jelas dan sistem bergiliran.
• Menghadapi yang tidak sefrekuensi dengan cara pahami, tetap buka komunikasi, tentukan batasan, dan gunakan sebagai pelajaran pengembangan hubungan.

Baca juga : Sendiri bukan berarti sepi

© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.

Tinggalkan komentar