Awal Pertemuan di lapangan sekolah

Hari Senin itu matahari terasa lebih terik dari biasanya. Lapangan sekolah penuh dengan barisan siswa yang berdiri rapi mengikuti upacara bendera. Aku, Mira, berdiri di barisan kelas satu, sambil menunduk karena panas mulai menyengat wajah. Pagi itu sama seperti pagi-pagi sebelumnya, bendera merah putih berkibar, lagu Indonesia Raya bergema, dan derap langkah Paskibra terdengar tegas di telinga.
Namun, ada sesuatu yang berbeda. Tepat ketika aku mengangkat kepala, pandanganku berhenti pada satu sosok di seberang lapangan.
Perasaan yang tumbuh diam-diam
Dia, Raka. Kakak kelasku. Tubuhnya tegap, kulitnya sedikit kecokelatan, dan ada ketenangan di wajahnya yang membuatku terpaku. Entah kenapa, jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saat itu aku tahu, ada sesuatu yang baru lahir dalam diriku : sebuah perasaan yang asing, polos, dan sulit dijelaskan.
Sejak hari itu, bayangan Raka seolah mengikuti langkahku ke mana-mana. Aku mulai mencari-cari cara untuk tahu lebih banyak tentangnya. Aku sengaja memperhatikan barisan kakak kelas saat upacara, menoleh ke arah kantin yang sering ia datangi, bahkan diam-diam memperhatikan motor yang ia parkir di halaman sekolah. Motor itu terlihat keren, jauh lebih mewah daripada motor murid-murid lain. Tak heran kalau banyak mata, terutama para siswi, yang tertuju padanya.
Aku menceritakan semuanya pada sahabatku, Sinta. Kami berdua duduk di bangku kelas, menunggu guru datang. Dengan malu-malu, aku berbisik, “Sin, aku kayaknya suka sama kakak kelas…”
Sinta menoleh cepat, matanya berbinar penuh rasa kepo. “Siapa? Jangan-jangan si Raka?” tanyanya sambil menahan tawa.
Aku terkejut. “Kamu kok tahu?”
“Semua cewek juga bisa lihat, Ra. Dia kan keren banget,” jawabnya cekikikan.
Aku merajuk, “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya…”
Sinta mengangkat dua jari, “Tenang, aku aman. Tapi lucu juga kalau dia tahu kamu suka.”
Sayangnya, dunia sekolah tidak pernah bisa benar-benar menyimpan rahasia. Entah dari siapa, kabar itu akhirnya sampai juga ke telinga Raka. Dan sejak saat itu, aku merasa ia mulai menghindariku.
Awalnya, aku masih pura-pura tidak peduli. Tapi setiap tatapan singkat, setiap gestur kaku, membuatku sadar kalau ia tahu, dan ia tidak nyaman. Hatiku perlahan-lahan dicekam rasa malu.
Puncaknya terjadi saat ada acara sekolah di luar kota yang mengharuskan kami menyeberang dengan kapal. Semua siswa berbaris untuk naik satu per satu. Angin laut bertiup kencang, menggoyangkan tali kapal. Raka dengan ramah membantu beberapa siswi naik ke kapal, Ia mengulurkan tangan, menahan langkah agar teman-temannya tidak terjatuh.
Aku berdiri di antrean, berharap diam-diam bisa merasakan hal yang sama. Tapi begitu giliranku tiba, Raka hanya melirik sekilas lalu berkata singkat, “Eh, biar temanku aja yang bantu kamu.”
Aku terdiam. Seakan angin laut yang menusuk wajah juga menampar hatiku. Aku tahu dia tidak ingin terlihat dekat denganku. Itu adalah penolakan paling halus, tapi paling jelas. Aku menunduk, pura-pura sibuk menata langkah, padahal hatiku hancur berkeping-keping.
Hari-hari berikutnya semakin berat. Aku masih sering melihat Raka di koridor sekolah, tapi dia lebih sering berjalan bersama Nadine, adik kelasku yang cantik dan pintar. Nadine berasal dari keluarga berada, caranya berbicara selalu anggun, dan wajahnya menawan. Mereka terlihat serasi, dan kabar kedekatan mereka menyebar cepat.
Aku hanya bisa menatap dari jauh, sambil menelan semua rasa malu. Kadang aku mendengar gosip cewek-cewek lain yang iri pada Nadine. Tapi aku? Aku hanya merasa semakin kecil, semakin tidak pantas.
Sinta selalu mencoba menghiburku.
“Mira, kamu masih SMP, jangan sedih segitunya. Cinta pertama itu memang jarang berhasil.”
Aku hanya tersenyum getir, lalu menangis di bahunya.
“Kenapa rasanya sakit banget, Sin? Padahal dia bahkan bukan siapa-siapaku…”
Sinta mengusap pundakku. “Karena kamu tulus, Ra. Tapi percayalah, luka ini nanti sembuh sendiri.”
Waktu terus berjalan, tapi perasaanku tidak berubah. Aku masih sering menoleh setiap kali motor Raka melintas. Aku masih deg-degan setiap kali melihatnya tersenyum dari jauh. Rasa itu bertahan lebih dari setahun, meski aku tahu itu hanya cinta bertepuk sebelah tangan.
Kenangan yang selalu membekas
Hingga akhirnya kabar itu datang. Raka akan pindah sekolah ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Kabar itu tersebar cepat, memenuhi obrolan di kantin, kelas, dan lapangan. Semua orang membicarakannya.
Hari terakhirnya di sekolah, aku melihatnya dikerubungi teman-teman yang memberi salam perpisahan. Suasana ramai, penuh tawa, penuh tangis. Aku berdiri jauh di koridor, memeluk buku erat-erat. Ingin sekali aku mendekat, sekadar mengucapkan selamat jalan, tapi kakiku terasa terkunci.
Aku hanya mampu menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Tidak ada keberanian, tidak ada kata yang sanggup kuucapkan. Saat itu aku sadar, cerita ini tidak pernah benar-benar dimulai, tapi sudah harus berakhir.
Aku pulang dengan langkah gontai. Sinta menemaniku, berjalan di sisiku. “Mira, suatu hari nanti kamu akan tertawa kalau ingat semua ini,” katanya pelan. Aku menunduk, menahan air mata. Aku tahu ia benar, tapi hari itu, aku hanya merasakan kekosongan.
Malamnya, aku menulis di buku harianku:
Raka, terima kasih sudah membuatku merasakan degup pertama itu. Meski tak pernah terucap, aku bersyukur pernah menyukaimu.
Kini, bertahun-tahun setelah itu, aku tersenyum setiap kali mengingat betapa polosnya diriku dulu. Cinta pertama itu memang bertepuk sebelah tangan, tapi justru dari situlah aku belajar bahwa tidak semua perasaan harus berakhir bersama. Kadang cukup dikenang dengan tulus, sebagai bagian dari perjalanan tumbuh dewasa.
Artikel ini yang mungkin juga kamu suka : Perasaan cinta tersembunyi
YouTube Shorts : Cinta Tak Selalu Untuk Dimiliki
© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.