KENAPA PENYESALAN SERINGKALI DATANG BELAKANGAN

Klik play untuk mendengarkan musik sambil membaca.

 Ada satu kenyataan dalam hidup yang gak pernah bisa kita hindari yaitu penyesalan. Penyesalan hampir selalu datang terlambat. Ia datang ketika semua sudah berlalu, ketika waktu gak bisa lagi diputar ulang, ketika seseorang yang kita cintai telah benar-benar pergi meninggalkan kita. Dan saat itu, yang tersisa hanyalah luka, tangisan, dan pertanyaan yang berputar-putar di kepala, “Kenapa aku gak bisa memaafkan lebih cepat? Kenapa aku gak lebih menghargai kehadirannya ketika dia masih ada?”

Satu tangan yang sedang memegang jam

Aku pernah mengalaminya. Kehilangan seseorang yang begitu penting dalam hidupku. Orang yang dulu begitu dekat, yang hadir dalam setiap bagian hidupku, yang pernah membuatku tertawa dan menangis dalam waktu yang sama. Tetapi, di balik semua kenangan indah itu, ada konflik yang sempat terjadi. Ada ego yang gak ingin mengalah. Ada amarah yang gak kunjung reda. Dan sayangnya, ketika aku masih sibuk dengan kemarahan itu, takdir memutuskan untuk memanggilnya pergi… selamanya.

Saat itu, aku hanya bisa terdiam. Tubuhku ada di sini, tapi hatiku seperti hancur berantakan. Semua kalimat yang dulu kuucapkan dengan nada tinggi, semua sikap dingin yang sengaja kutunjukkan, semua kesempatan untuk memaafkan yang kuabaikan, semua itu kembali menamparku dengan keras.

Ketika Ego Mengalahkan Cinta

Kenapa kita seringkali sulit memaafkan?
Mungkin karena kita merasa luka itu terlalu dalam. Atau karena kita ingin orang lain benar-benar mengerti betapa sakitnya hati kita. Ada saat di mana aku merasa, “Aku berhak marah. Aku berhak kecewa. Aku berhak menunjukkan rasa sakitku.” Dan memang benar, semua orang berhak untuk marah. Tapi masalahnya, ketika amarah itu terus dipelihara, ia berubah jadi jurang yang semakin dalam antara kita dan orang yang kita cintai.

Yang paling menyakitkan adalah ketika orang itu pergi tanpa sempat aku mengatakan, “Aku sudah memaafkanmu. Aku gak ingin kita berpisah dengan dendam.” Aku kehilangan kesempatan itu. Dan rasa penyesalan itu jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka awal yang membuatku marah.

Tonton video: Jangan tunggu sampai terlambat

Waktu Tidak Pernah Bisa Diputar

Ada kalanya aku berharap waktu bisa diulang. Seandainya bisa, aku ingin kembali ke hari-hari terakhirnya. Aku ingin memeluknya, menatap matanya, dan mengatakan bahwa aku mencintainya meskipun ia pernah melukaiku. Aku ingin melepas ego yang pernah menutup hatiku, karena pada akhirnya, semua ego itu terasa gak penting lagi.

Namun, kenyataannya, waktu gak bisa diputar kembali. Kita hanya bisa berjalan maju dengan luka yang ada. Dan luka itu berubah menjadi penyesalan yang akan selalu membayang-bayangi, kapan pun aku mengingatnya.

Penyesalan Itu Beban

Aku akhirnya menyadari bahwa penyesalan adalah beban paling berat yang bisa dimiliki seseorang. Bukan hanya karena kita kehilangan orang itu, tapi karena kita tahu ada sesuatu yang belum terselesaikan. Ada kata-kata yang gak sempat diucapkan. Ada pelukan yang gak pernah diberikan. Ada maaf yang gak sempat dilepaskan.

Itu membuat kita terus bertanya-tanya: “Seandainya aku memaafkan lebih cepat, apakah aku akan merasa lebih damai? Seandainya aku bisa menyingkirkan egoku, apakah aku bisa melepas kepergiannya dengan hati yang lebih tenang?”

Dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu gak akan pernah bisa kita temukan. Yang tersisa hanyalah penyesalan.

Semua Orang Akan Disakiti

Fakta lain yang akhirnya aku sadari adalah bahwa semua orang akan mengalami disakiti. Gak ada hubungan yang benar-benar sempurna. Bahkan orang yang paling kita cintai pun bisa melukai kita, entah dengan kata-kata, sikap, atau pilihan hidupnya.

Namun, kita pun bukan manusia sempurna. Kita juga pernah, sadar atau gak, kita melukai orang lain. Dan pada akhirnya, kita semua hanya manusia yang saling belajar, saling jatuh, dan saling berusaha untuk bangkit.

Memaafkan bukan berarti kita melupakan rasa sakit itu. Tapi memaafkan berarti kita memilih untuk gak membiarkan rasa sakit itu menguasai hidup kita.

Kedamaian Hati Itu Penting

Aku belajar bahwa memaafkan bukan hanya untuk orang yang bersalah, tapi juga untuk diri kita sendiri. Karena kedamaian hati itu sangat penting. Tanpa kedamaian, hidup terasa berat. Setiap hari terasa penuh dengan kemarahan dan penyesalan.

Melepaskan amarah, melepaskan dendam, bukan berarti kita kalah. Justru itu adalah kemenangan terbesar kalau kita menang atas ego kita sendiri.

Ketika kita bisa memaafkan, kita sedang memberikan hadiah terbesar untuk diri kita yaitu ketenangan. Dan ketika suatu hari orang yang kita cintai benar-benar pergi, kita bisa melepasnya dengan ikhlas, tanpa penyesalan yang menyesakkan dada.

Jangan Menunggu Sampai Terlambat

Tulisan ini adalah pengingat, bukan hanya untukmu, tapi juga untukku sendiri. Jangan menunggu sampai orang yang kita cintai pergi untuk menyadari betapa berharganya mereka. Jangan menunggu sampai penyesalan datang untuk akhirnya belajar menghargai.

Kalau hari ini masih ada konflik dengan orang yang kamu cintai, cobalah untuk membuka hati. Kalau hari ini kamu masih menyimpan dendam atau sakit hati, pikirkanlah, apakah rasa sakit itu sepadan dengan penyesalan yang mungkin datang nanti?

Karena pada akhirnya, waktu adalah sesuatu yang gak bisa kita kendalikan. Kita hanya bisa memilih bagaimana kita menggunakannya. Dan aku gak ingin lagi menggunakannya untuk memelihara dendam.

Menghargai Waktu yang Ada

Sekarang aku mencoba menjalani hidup dengan cara berbeda. Aku belajar menghargai waktu, sekecil apa pun itu. Aku belajar untuk lebih sering mengucapkan kata maaf, lebih sering menunjukkan kasih sayang, lebih sering mengalah meski egoku berkata lain.

Karena aku gak ingin lagi kehilangan seseorang dengan meninggalkan luka di hatiku. Aku gak ingin lagi hidup dengan penyesalan yang menyesakkan.

Penyesalan memang sering datang belakangan. Tapi kita masih bisa memilih untuk gak membiarkan penyesalan itu menguasai hidup kita. Dengan memaafkan lebih cepat, dengan menghargai lebih dalam, dengan mencintai lebih tulus, kita bisa hidup dengan lebih damai.

Kalau ada seseorang dalam hidupmu yang pernah melukaimu, coba ingat kembali semua kebaikan yang pernah ia berikan. Ingat bahwa waktu bersama mereka terbatas. Dan jangan sampai kita baru menyadari itu ketika semuanya sudah terlambat.

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan dendam. Kedamaian hatimu jauh lebih berharga.

Artikel lain yang mungkin kamu suka :

Ketika ego mengalahkan cinta

Belajar berdamai dengan luka lama

Rindu yang tak akan pernah sampai

© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.

Tinggalkan komentar