BATAS YANG TAK TERLIHAT

Ada masa dalam hidup di mana langkah kita melambat. Jalan yang tadinya lancar tiba-tiba terasa macet. Kita berhenti sebentar dan menunggu, mengamati orang-orang di sekeliling kita sambil bertanya-tanya, kapan kita bisa bergerak lagi.

Seseorang mengecat dua garis lurus hitam di pinggir jalan aspal, melambangkan penegasan batas dalam hidup

Di masa seperti itu, kita sering kali terjebak dalam kebisuan, bukan karena gak tahu apa yang harus kita lakukan, tapi karena kita ragu apakah langkah selanjutnya akan membawa kita ke tempat yang lebih baik atau justru membuat kita kehilangan apa yang sudah ada.

Namun, di tengah jeda itu, ada satu hal penting yang sering kita lupakan yaitu batas. Batasan yang kita buat untuk melindungi diri, menjaga energi kita dan memastikan bahwa kita gak akan kehilangan arah.>

Tonton Shorts: “Pelan bukan berarti tertinggal”

Menarik Garis untuk Menjaga Ruang

Menetapkan batasan bukan berarti kita menolak orang lain. Tapi sebaliknya batasan yang sehat adalah bentuk penghargaan, baik itu untuk diri sendiri maupun untuk orang lain di sekitar kita.
Batas mengajarkan kita untuk mengatakan, “Ini ruangku, dan aku ingin menjaganya tetap aman.”

Tapi seringkali, batasan itu hanya ada di pikiran, belum menjadi nyata. Kita “mencoba” untuk tegas, namun hanya sebatas mengisyaratkan. Padahal, orang lain lebih mudah melanggar batasan yang samar karena orang lain gak tahu di mana mereka harus berhenti.

Kita perlu keberanian untuk mengubah batas itu menjadi lebih jelas. Gak perlu keras tapi cukup dengan konsisten. Karena batas yang jelas akan memudahkan orang untuk menghormatinya.

Tetap Setia pada Identitas Diri

Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu orang-orang yang salah mengartikan kita ini siapa. Ada yang melihat kita dari sudut pandang yang keliru, menempelkan label yang gak sesuai, atau menilai kita tanpa mengenal lebih jauh dulu.

Di saat seperti itu, sebenarnya kita punya pilihan dengan berusaha keras membuktikan diri kepada mereka atau kita memilih untuk kembali ke “rumah” dan lingkungan yang benar-benar mengenal kita.

Kembali ke rumah kita bukan berarti mundur. Itu adalah langkah untuk mengisi ulang energi, agar kita bisa melangkah lagi dengan lebih mantap tanpa harus kehilangan jati diri kita yang sebenarnya.

Gangguan yang Tidak Mau Berhenti

Ada situasi di mana kita sudah menunjukkan ketidaknyamanan dengan jelas, tapi orang lain tetap saja melakukan hal yang mengganggu. Seolah-olah sinyal dari kita gak pernah sampai.

Di titik ini, kita belajar bahwa gak semua orang akan menghormati batas kita, bahkan setelah kita mengatakannya. Ada yang memang gak peka, ada pula yang sengaja untuk menguji seberapa jauh mereka bisa melangkah.

Penting untuk memahami satu hal lagi, yaitu kita perlu mengkomunikasikan bahwa batas adalah tanggung jawab kita dan menghargai batas adalah tanggung jawab mereka. Jika mereka gak menghormati, kita perlu untuk memutuskan apakah kita akan bertahan sambil menjaga jarak atau kita harus meninggalkan ruang itu sepenuhnya.

Waspada terhadap “Kursi Panjang”

Kadang kita menemukan diri kita yang sedang duduk di “kursi panjang” dimana itu merupakan zona nyaman yang sebenarnya gak nyaman juga. Kita menunggu suatu perubahan dan menyadari sebenarnya perubahan itu gak akan datang jika kita hanya duduk diam.

Kursi panjang memberi ilusi bahwa kita sedang beristirahat, padahal kita sedang menunda suatu keputusan penting. Semakin lama kita duduk di sana dan kita semakin sulit untuk berdiri.

Jangan biarkan kursi panjang itu menahanmu terlalu lama. Hidup gak akan menunggu sampai kita siap. Kita yang harus memutuskan kapan saatnya untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Saatnya Mengambil Langkah

Menegaskan batas bukan hanya soal berkata “tidak”. Ini juga tentang berkata “ya” pada hal-hal yang benar-benar penting.
• Ya pada lingkungan yang menghargai identitas kita.
• Ya pada hubungan yang sehat.
• Ya pada ruang yang aman untuk bertumbuh.

Kadang langkah ini berarti menjauh dari orang atau situasi yang gak mau berubah. Kadang ini berarti tetap bertahan tapi dengan cara baru, cara yang gak mengorbankan harga diri dan kenyamanan kita.

Refleksi untuk Kita Renungkan bersama
1. Apakah batas yang kamu buat selama ini cukup jelas untuk dipahami orang lain?
2. Siapa saja yang benar-benar mengenal dan menghargai identitasmu tanpa perlu penjelasan panjang?
3. Apakah ada “kursi panjang” yang selama ini kamu duduki terlalu lama?
4. Bagaimana respon orang terdekat saat kamu mengungkapkan ketidaknyamanan?
5. Langkah kecil apa yang bisa kamu lakukan minggu ini untuk membuat batas yang lebih sehat?

Hidup ini terlalu singkat untuk kita menghabiskan waktu di ruang yang membuat kita merasa gak dihargai.
Menarik garis bukan berarti kita memutuskan hubungan melainkan kita memastikan hubungan itu tetap sehat.

Kita semua punya hak untuk merasa aman, dihargai, dan menjadi diri sendiri. Dan itu dimulai dari keberanian untuk mengatakan:

“Ini batasku. Tolong hormati.”

Mungkin kamu juga suka dengan artikel ini :

hubungan tidak sehat secara emosional

Refleksi cinta yang tidak seimbang

Aku tidak hidup dari pengakuan

© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.

Tinggalkan komentar