Kehilangan yang tidak pernah kita siapkan

Kadang ada kehilangan yang tidak bisa kita selesaikan secara pikiran kita. Bahkan setelah sekian lama, rasanya masih terasa nyata, seperti ada ruang kosong yang tak tergantikan. Entah itu seseorang yang pernah kita sayangi, yang dulu kita pikir akan selalu ada, atau bahkan seseorang yang gak pernah kita siap.
Kehilangan itu tidak selalu datang dalam bentuk perpisahan yang dramatis. Kadang, ia datang secara perlahan, tanpa suara, saat seseorang berhenti bertanya kabar, berhenti menjawab pesan.
Dan saat itu terjadi, aku hanya bisa diam.
Bukan karena aku kuat, tapi karena aku tidak tahu harus bagaimana.
Hari-hari setelah kehilangan
Hari-hari setelah kehilangan terasa berat.
Saat bangun tidur, tapi tidak merasa benar-benar hidup.
Saat tersenyum di luar, tapi rasanya hampa di dalam.
Semua hal terasa biasa saja, padahal hati berantakan.
Orang-orang tetap tertawa, sibuk, mengirim pesan, padahal aku sedang menahan air mata di antara tumpukan pekerjaan atau pun obrolan biasa.
Proses menerima kenyataan
Perlahan, kita belajar bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki. Bahwa cinta tidak selalu bisa dipertahankan. Bahwa ada hal-hal yang memang harus dilepaskan bukan karena menyerah, tapi karena kita berhak untuk tetap utuh.
Bangkit dari kehilangan bukan soal melupakan
Bukan juga tentang menghapus kenangan atau membenci yang pergi.
Bangkit adalah tentang :
- Memaafkan diri sendiri karena masih menangis
- Memaklumi hari-hari kosong sebagai bagian dari proses
- Memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, meski sesekali sesak datang kembali
Langkah kecil untuk bangkit
Setiap orang punya cara berbeda untuk pulih. Beberapa hal yang bisa dicoba:
1. Izinkan diri merasa sedih. Menangis bukan tanda kelemahan, tapi bagian dari kejujuran pada diri.
2. Tuliskan perasaanmu. Jurnal bisa membantu melepas beban yang sulit diucapkan.
3. Cari dukungan. Cerita pada sahabat atau keluarga dapat membuat hati terasa lebih ringan.
4. Temukan rutinitas kecil. Menyeduh kopi, berjalan pagi, membaca buku, itu semua hal sederhana yang bisa jadi awal pemulihan.
5. Percaya pada waktu. Luka tak hilang dalam semalam, tapi seiring waktu, rasa sakitnya bisa lebih bisa diterima.
Temukan harapan baru
Suatu hari, tanpa kita sadari, kita mulai merasa berbeda.
• Menyeduh kopi tanpa merasa sedih.
• Mendengar lagu lama tanpa menangis.
• Keluar rumah tanpa bayangan seseorang yang pernah pergi.
Luka memang tidak benar-benar hilang. Tapi kita lebih kuat dari rasa sakit itu. Dan kita berhak bahagia lagi, bukan karena melupakan, tapi karena memilih untuk hidup.
Penutup : Pelan-pelan, kita sedang bangkit
Kehilangan orang yang dicintai memang berat. Tapi setiap langkah kecil, setiap air mata, adalah bagian dari perjalanan menuju pemulihan.
Dan aku sadar, ternyata aku sudah sampai sejauh ini.
Mungkin luka itu tidak akan pernah benar-benar hilang, tapi setidaknya ia tak lagi mengendalikan diriku. Aku bisa merindukan seseorang tanpa kehilangan diriku sendiri.
Pelan-pelan, aku sedang bangkit.
Dan kamu juga bisa.
Aku sudah jauh lebih kuat dari yang orang lain lihat …
Bangkit dari kehilangan bukan soal melupakan.
Bukan juga tentang menghapus kenangan atau membenci yang pergi.
Pelan-pelan, aku sedang bangkit !
Mungkin kamu suka dengan artikel ini :
Rindu yang tak akan pernah sampai
Ketika rindu terjebak dalam diam
📺 Tonton video pendek reflektif kami di YouTube: “Lepaskan, Bukan Karena Tak Sayang, Tapi Karena Harus”
© Kata Kita — Semua tulisan di blog ini adalah karya original. Dilarang menyalin/republish tanpa izin.